26 Agustus 2008

“Terkadang, di balik tubuh yang tegap-gagah tersembunyi jiwa yang kerdil. Dan tak jarang, di balik tubuh yang ringkih dan papa, terdapat jiwa besar yang kukuh, tak mudah dilumpuhkan.”
Tan, kaukah yang terakhir itu?
— sebuah inspirasi setelah membaca Tempo edisi khusus Tan Malaka
Pengetahuan, Antara Rutinitas dan Pencarian
“Mengetahui”, hampir selalu identik dengan “mendapatkan pengetahuan”. Dalam kehidupan sehari-hari, faktanya sering kali kita memperlakukan pengetahuan seperti sebuah “data” yang dapat diperoleh.
Seorang bapak atau ibu, sering kali menasihati anaknya agar mereka belajar lebih rajin agar mereka “mendapatkan pengetahuan” dan menjadi “orang yang berilmu”. Karena, katanya, dengan “pengetahuan” itu mereka bisa hidup lebih baik dan lebih berhasil. Dalam sebuah ayat Kitab Suci disabdakan bahwa ada perbedaan antara “orang-orang yang berilmu” dengan “orang yang tidak berilmu”. Dengan kata lain, dengan orang-orang bodoh yang tidak memiliki pengetahuan.
“Memiliki pengetahuan”, “mendapatkan pengetahuan”, “ber-ilmu”-kata-kata ini menyiratkan, sekali lagi, suatu kesan tentang pengetahuan sebagai sesuatu yang “mudah dimiliki” dan “didapatkan”.
Tapi, benarkah apa yang kita sebut dengan lazim (dan penuh hormat) sebagai “pengetahuan” itu adalah sesuatu yang sudah dan mudah “dimiliki” atau “didapatkan”?
Sepertinya, tidak selamanya demikian. Pengetahuan memang dapat diperlakukan sebagai data, tetapi itu bukan pengetahuan dalam pengertian yang menarik.
Kembali kepada terma “mengetahui”. Kata yang begitu lazim ini, begitu lumrah didengar oleh telinga, dan karena begitu lumrahnya sampai tak terasa pikiran kita terbius olehnya, sebenarnya mengandung ambivalensi yang amat menantang. “Mengetahui”, di satu sisi yang dominan, memang mengesankan arti kepemilikan: “mengetahui” berarti “memiliki pengetahuan”. Ketika seseorang berucap “Saya mengetahui X”, tersirat arti “saya memiliki pengetahuan tentang X”. Makna kepemilikan ini lebih kuat lagi muncul, jika kita berucap “saya mengetahui X dari Y”, misalnya. Ungkapan ini bisa diterjemahkan: “saya mendapatkan pengetahuan tentang X dari Y”, seolah pengetahuan adalah barang yang dapat ditransfer dengan begitu mudahnya, atau dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain.
Kesan “kepemilikan” dalam soal “tahu-mengetahui” ini merupakan bias epistemologis yang mengaburkan kejernihan pikiran. Tak berbahaya menganut pandangan tentang ini, atau menanamkannya dalam kehidupan sehari-hari. Namun, “kepemilikan” ini, jika terus-menerus diajarkan tanpa evaluasi kritis, akan membawa orang yang meyakininya pada kepercayaan bahwa hanya dia yang “memiliki” pengetahuan. Imbasnya, bias epistemologis itu menjalar menjadi bias ideologis.
Memaknai “mengetahui” dengan pola demikian, lumayan menjenuhkan. “Mengetahui” yang dimaknai dengan “mendapatkan”, membuat kita biasa memperlakukan tindakan mulia yang kita sebut “belajar” itu sebagai rutinitas. Ketika “belajar” menjadi rutinitas, yang terjadi, “mengetahui” cuma dimaknai dalam konteks menyerap sebanyak mungkin pengetahuan untuk dijadikan data dalam otak kita.
Bias epistemologis itu sepertinya muncul karena bias scientific yang dibawa oleh fisio-biologi. Bias ilmiah ini mengidentikkan pikiran dengan “otak” yang memiliki tempat dan berwujud secara fisis. Dengan begitu, karena otak membutuhkan makanan, demikian pun pikiran juga butuh makanan, dan makanan otak tak lain adalah “pengetahuan” yang telah dikemas menjadi “data”.
Sekali lagi, tak ada salahnya memaknai “pengetahuan” sebagai segepok data, atau sejenis paket yang bisa dikirim dari satu tempat ke tempat lain. Namun, “mengetahui” dalam pengertian itu membuat pengetahuan tak lagi tampak kepada kita dengan segenap eksotisme dan keajaibannya.
Arti penting dari “mengetahui”, agaknya terletak pada kemungkinan negativitas yang tersembunyi di dalam pengetahuan. Dalam negativitasnya yang “lain”, “mengetahui” bisa dimaknai dengan “belum mengetahui”, atau “tidak mengetahui”. “Belum mengetahui” bisa dimaknai dengan “mencari usaha untuk pengetahui”, atau “mencoba untuk mengetahui”. Pencarian atau percobaan terus-menerus menandai “mengetahui” sebagai aktivitas yang unik, melewati sekian eksperimentasi yang menegangkan dan menantang pikiran pada kenyataan-kenyataan baru.
Tapi, negativitas pengetahuan tidak otomatis berarti “tidak mengetahui” itu segala-galanya. Sebab jika begitu, pengetahuan menjadi tidak perlu. “Tidak mengetahui” hanya menegaskan bahwa dalam “mengetahui”, ada yang sisi-sisi lain yang harus diakui belum kita ketahui. Ada sisi-sisi lain yang harus kita pelajari dengan saksama, atau menuntut kita untuk lebih sungguh-sungguh mempelajarinya.
“Pengetahuan”, jika demikian, barangkali dapat dirumuskan sebagai proses belum-jadi dari tegangan unik antara “mengetahui” dan “belum mengetahui”. Atau, ia ibarat jabang bayi belum-jadi, hasil persetubuhan dari “mengetahui” dan “mencoba mengetahui”. Jabang bayi itu bisa lahir atau keguguran, tergantung sejauh mana persetubuhan itu berhasil mencapai orgasme, sejauh mana kedua hal yang saling kontras itu menciptakan sensasi-sensasi baru dalam prosesnya…
~ Muhammad Al-Fayyadl
Petitih Iqbal
Muhammad Iqbal, pemikir cum penyair Islam terkemuka dari Pakistan itu, sudah lama meninggalkan kita. Tapi, ingatan tentangnya seketika terselamatkan dalam benakku, ketika hari ini, tanpa sengaja, aku menemukan sebuah buku lawas di kardus buku temanku; sebuah buku yang memikat karena kekayaan idenya meski tipis dan terlihat kuno: Sisi Manusiawi Iqbal (1992).
Iqbal, anak emas zamannya. Ia seorang connoisseur pemikiran Islam yang percik gagasannya melejit melampaui teritori waktu dan bangsa. Seperti dikatakannya, “Individu dan bangsa akan mati; tapi, anak-anak mereka, yaitu ide, tak akan pernah mati”.
Hari ini aku menjadi saksi atas kebenaran kalimat itu. Buku-buku boleh berganti, generasi boleh hilang ditelan zaman. Dan waktu terus berlalu melaju ke depan. Tapi ingatan memanggil keabadian.
Kata-kata Iqbal adalah sekeping dari monumen kecil keabadian itu.
~ Muhammad Al-Fayyadl
Seni (I)
“Seni adalah dusta yang kudus”
Pikiran Agung dan Goethe
“Jiwa kita menemukan dirinya sendiri ketika berhubungan dengan suatu pikiran besar. Setelah menyadari ketakterbatasan imajinasi Goethe, baru aku menemukan sempitnya imajinasiku sendiri”
Tentang Tuhan (I)
“Kristen menggambarkan Tuhan sebagai cinta kasih; Islam menggambarkan-Nya sebagai kekuatan. Mana di antara dua konsep ini yang harus kita terima? Menurutku, sejarah manusia dan keseluruhan semesta harus dapat menjelaskan kepada kita, mana yang lebih benar di antara keduanya. Dalam sejarah, kudapati Tuhan mewujudkan diri-Nya lebih sebagai kekuatan ketimbang cinta kasih. Aku tak bermaksud menyangkal kasih-Nya; yang kumaksud adalah, berdasarkan pengalaman sejarah kita, Tuhan lebih baik digambarkan sebagai kekuatan”
Harga Keadilan
“Keadilan adalah harta yang tak ternilai; kita harus menjaganya agar tak dicuri rasa belas kasih”
Revolusi
“Dalam hal pemikiran manusia, barangkali Muhammad, Buddha, dan Kant dapat disebut revolusioner terbesar. Dalam hal aksi, Napoleon tak tertandingi. Aku tak memasukkan Kristus dalam jajaran kaum revolusioner dunia, karena gerakan yang dipeloporinya segera terserap ke dalam paganisme pra-Kristen. Kristen Eropa, bagiku, tak lain adalah terjemahan yang kurang cerdas dari paganisme kuno dalam bahasa teologi Semit”
Kisah dan Kebenaran
“Untuk menjelaskan kebenaran kebenaran terdalam dari hidup dengan contoh kisah-kisah yang akrab, dibutuhkan orang-orang yang jenius luar biasa. Contoh dari jenius yang jarang dijumpai ini mungkin hanyalah Shakespeare, Maulana Rumi, dan Yesus Kristus”
Kekuatan Minoritas
“Wajah dunia, pada prinsipnya, ditentukan oleh golongan minoritas. Sejarah Eropa mempunyai cukup kesaksian untuk membenarkan pernyataan ini. Bagiku, tampaknya ada alasan psikologis mengapa golongan minoritas selalu menjadi faktor yang kuat dalam sejarah umat manusia. Karakter adalah kekuatan tak terlihat yang menentukan nasib suatu bangsa, dan suatu karakter yang kuat mustahil ada dalam kelompok mayoritas. Karakter adalah kekuatan. Semakin banyak ia dibagikan, semakin lemahlah ia”
Tentang Tuhan (II)
“Kekuatan itu lebih ilahiah dibanding kebenaran. Tuhan adalah kekuatan”
Orang yang Kuat dan Lemah
“Orang yang kuat menciptakan lingkungan; orang yang lemah menyesuaikan diri dengan lingkungan”
Peradaban
“Peradaban adalah hasil pikiran orang yang kuat”
Tentang Mahdi
“Berhentilah menunggu Mahdi — personifikasi kekuatan. Bangkit dan ciptakan dia”
Surga Dunia
“Berikan karakter dan imajinasi sehat, maka kita dapat membangun kembali dunia yang penuh dosa dan penderitaan ini menjadi surga yang nyata”
Makna Derita
“Penderitaan adalah hadiah dari para dewa agar manusia dapat melihat seluruh kehidupan”
Penyair (I)
“Seorang ahli matematika tak mampu memuatkan ketakterbatasan dalam satu baris; seorang penyair mampu”
Makna Dosa
“Setidaknya dalam satu hal, dosa lebih baik daripada kesalehan. Ada unsur imajinatif dalam dosa yang tidak dijumpai dalam kesalehan”
“Dosa mempunyai nilai mendidik. Orang saleh sering kali bodoh”
Kekuatan Tekad dan Tindakan
“Hidup, seperti juga puisi dan lukisan, seluruhnya adalah ekspresi. Kontemplasi tanpa aksi adalah kematian”
“Adalah kesungguhan niat, dan bukannya otak, yang menentukan keberhasilan dalam hidup”
Penyair (II)
“Bangsa-bangsa lahir di hati penyair; mereka tumbuh dan mati di tangan politikus”
“Seorang nabi tak lain adalah penyair yang bekerja”
“Filsafat adalah sekumpulan puisi yang menggigil dalam malam dingin akal manusia. Penyair datang dan menghangatkan mereka ke dalam objektivitas”
“Psikolog berenang, penyair menyelam”
Keindahan Melampaui Pengetahuan
“Semua keindahan pengetahuan yang ada dalam buku-buku perpustakaanmu tidak berarti dibanding keagungan matahari terbenam di tepi sungai Revi”
“Tuhan! Terima kasih untuk kelahiranku di dunia ini, di mana fajar merah menyingsing, dan matahari terbenam dengan iringan lembayung senjata, dan kegelapan masa silam telah beristirahat dalam tidur abadi, dalam pelukan rimba belantara”
Filsafat dan Puisi
“Filsafat menuakan seseorang; puisi membuatnya muda kembali”
Nilai Peristiwa
Aku menilai hari-hari, bulan, dan tahun dari pengalaman-pengalaman yang mereka berikan untukku. Kadang aku terkejut mendapati bahwa satu saat peristiwa tertentu lebih berharga dibanding waktu setahun penuh”
Makna Pengalaman
Setiap pengalaman membangkitkan sesuatu dari jiwa manusia. Bahkan pengalaman berdosa memperlihatkan beberapa aspek dalam jiwamu yang tidak kau kenali sebelumnya. Maka, pengalaman adalah sumber pengetahuan ganda: ia memberimu pengetahuan tentang yang ada di luar dirimu sekaligus yang ada di dalam dirimu”
Teka-teki Kebenaran
“Aku sering bermain petak-umpet dengan kebenaran. Ia selalu bersembunyi di balik karang kepastian”
Seni (II)
“Ilmu pengetahuan, filsafat, dan agama; semuanya mempunya batas. Hanya seni yang tidak”
Kekuatan Pikiran
“Pabila engkau ingin suaramu didengar dalam dunia yang bising ini, biarkanlah jiwamu dikuasai hanya oleh satu gagasan. Manusia dengan satu gagasanlah yang akan menciptakan revolusi politik dan sosial, menegakkan kerajaan-kerajaan dan menetapkan hukum dunia”
Cinta
“Cinta adalah anak kecil yang senang bermain. Ia membentuk individualitas kita dan kemudian berbisik pelan: ‘lepaskan…’”
Fly like Eagle…
fly like eagle…
beyond earth, beyond all barriers…
toward the essence of freedom
toward the sun of hope and success
on the sky, I found no melancholy
no fear
no despair
no pain
on the sky, I touch the peak of experience
here is my world
on the wind, I across every challenge
fly like eagle
to make dreams come true
to change the impossible be possible…
Comments(4)

