Des Feuilles de Paris

19Des12

1 September 2012

Hari pertama keberangkatan ke Paris. Dua hari sebelumnya di Jakarta, aku dilepas oleh keluarga—Mbah, adik-adik, saudara-saudara, juga sanak famili di Bandara Surabaya. Penerbangan Surabaya-Jakarta lancar. Meski berat berpisah dengan keluarga besar, aku masih senang bisa ditemani kedua orangtua, Abah dan Ummi, ke Jakarta. 31 September, mengambil visa ke Kedubes Prancis, ketemu Vincent di Bundaran HI, lalu ke Ciganjur, seharian. Meninggalkan orangtua di sebuah apartemen milik seorang kerabat di Kalibata. Tak tega, sebenarnya. Tapi ini detik-detik terakhir di Indonesia. Bertemu teman-teman di Pesantren Ciganjur dan pamitan. Saat itu aku berpikir, “Sejauh-jauhnya aku belajar ke luar negeri, aku toh tetap santri”. Rasanya tak sopan bila pergi tanpa pamitan dulu ke pesantren almamater tempatku belajar. Keesokan harinya, pagi-pagi subuh, aku kembali ke Kalibata. Mengemas barang-barang. Siangnya, ke Bandara Soetta, ditemani orangtua dan Wawan. Menunggu teman-teman penerima beasiswa lain, Dian dan Fitri, berkumpul. Check-in. Kekikukan pertama pun terjadi: sempat kerepotan menata ulang isi koper karena sedikit “over”. Tapi teratasi. Melapor ke Imigrasi. Tak sengaja bertemu teman sekelas dulu di CCF: Leo. Dia berangkat ke Prancis juga, hanya beda maskapai. Senang akhirnya satu per satu teman sekelasku di CCF berangkat ke Prancis—Shofa, Priyo… Masuk pesawat internasional, untuk kali pertama. KLM jurusan Kuala Lumpur-Amsterdam-Paris. Tak sengaja duduk satu deret dengan warga Indonesia yang sekarang bekerja di Amsterdam, Mas Enang, dan sempat menjadi manajer di Menara Petronas, Malaysia. Bertukar pikiran tentang banyak hal: dari selera makan Eropa sampai kasus kekerasan atas Syi’ah di Sampang. Tak terasa waktu perlahan bergeser ketika pesawat mulai terbang ribuan kaki di atas permukaan. Tiba di Kuala Lumpur. Transit. Berkumpul dan kenalan dengan teman-teman beasiswa lain dari Bappenas, beberapa di antaranya juga akan tinggal di Paris. Berangkat lagi, menuju Amsterdam. 16 jam lagi tiba. Tiba di Amsterdam, melihat bandara yang luar biasa besar. Sayang tak sempat ambil foto. Kapan-kapan janji akan sampai lagi ke sini. Pemeriksaan sangat ketat. Kuatir risiko kena sensor anti-bajak, terpaksa membuang beberapa keping CD film kopian yang rencananya akan ditonton sesampai di Paris. Tapi, laptop aman. Masuk lagi ke KLM. Kali ini pesawatnya lebih kecil. Menuju Paris. Banyak kursi kosong. Andai saja bisa mengajak keluarga dan teman-teman untuk mengisi kursi-kursi kosong itu. Melihat Amsterdam dari atas, tanah-tanah pertanian yang luas dan hijau. Lalu awan tebal. Amsterdam-Paris rupanya sedang mendung. 10 menit lagi tiba di Bandara Charles de Gaulle (CDG). Melihat dari balik jendela pesawat, kupandangi campagnes, desa-desa di pinggiran Paris yang lebat dan hijau, juga danau-danau. Akhirnya, mendarat di CDG. Subuh belum beranjak. Suasana terasa kelabu, dan mendung. Keluar terburu-buru, walaupun sempat berfoto sebentar, untuk mengambil bagasi. Ternyata, kami bertiga—aku, Fitri, Dian—harus berpisah di sini. Fitri akan melanjutkan perjalanan ke Montpellier. Dian dijemput keluarganya yang kebetulan sudah lama tinggal di Paris. Pertemuan yang bersejarah, karena beliau ternyata seorang eksil korban 1965, dan kini mengelola restoran ”Indonesia” yang terkenal itu, di Paris. Buru-buru aku melanjutkan perjalanan, mencari loket bus bandara yang akan mengantarku ke Porte Maillot. Sempat kehilangan 3 Euro, gara-gara mencoba menelepon tapi salah menaruh koin. CDG sangat ramai. Sempat juga menabrak orang dengan troli, gara-gara kelelahan mengangkat koper. Dan “insiden” terakhir: sempat dipalak seorang “preman”, yang meminta “sedekah” uang tapi karena tak kuberi, mengatai-ngatai dengan bahasa vulgar. Sinisme khas terhadap kaum imigran. Paris, kota yang keras. Aku memaklumi itu. Lalu naik bus jurusan Porte Maillot-Champs-Elyssée-Etoile.

2 September 2012

Jalanan aspal dengan pohon-pohon hijau yang tampak muram dan berdebu. Ini akhir musim panas, banyak pohon meranggas. Aku melewati jalan menuju kampusku, melihat sudut-sudut banlieue Paris dari jauh: pasar murah St. Ouen, tenda-tenda tunawisma di pinggir jalan… Paris bukan hanya kota bagi yang berpunya. Di sini banyak juga orang melarat. Bus melaju kencang. Lalu memasuki perut kota, dan sampai di Porte Maillot, halte bus yang terletak tepat di depan pusat perbelanjaan Galeries La Fayette. Seperti tak percaya kalau foto Galeries itu, yang kulihat pertama kali 6 tahun lalu di sebuah kos-kosan di Yogyakarta, kini ada di depan mata. Aku mencari sebuah kabin telepon untuk minta dijemput taksi. Campus France sudah memesankan taksi untukku menuju CISP (Centre International de Séjour de Paris), Ravel, Paris arondissement 12, tempat aku akan menginap sampai besok pagi. Ini adalah tempat mahasiswa-mahasiswa internasional dari berbagai negara “ditampung”, sebelum melanjutkan perjalanan ke kampus tujuan. Lalu bertemu dengan seorang mahasiswa, Jerome, dari Tanzania. Dia membantuku memanggil taksi. Berdua kami naik taksi, pertama, ke tempat Jerome (dia akan menginap di hotel Ibis), lalu ke tempatku. Kami beruntung, menemukan sopir taksi yang ramah. Masih banyak orang baik di Paris. Dia mengantarku dengan senang hati, dan gratis. Tiba di Ravel, Vincennes. Melapor ke CISP, tapi belum boleh masuk. Kamar baru buka jam 2 siang. Aku tak tahu ini jam berapa. Kutitipkan koper. Aku jalan-jalan melihat Vincennes. Udara dingin, meski siang mulai merambat. Ini tempat kampusku, Paris VIII, dulu berdiri, sebelum sekarang pindah ke Saint-Denis. Lapar. Tapi toko-toko tutup. Ini hari Minggu. Lewat toko McDonald, lalu keluar karena tak selera. Selain mahal. Lalu mencari telepon untuk menelepon orang rumah tapi tak ketemu. Lalu, tanpa sengaja, bertemu dengan wartel dan warnet. Sempat mengunggah foto sebentar di FB. Lalu keluar, mencoba menelepon kembali, walaupun tetap tak berhasil. Pulang ke CISP, dengan kaki bengkak dan perut keroncongan. Akhirnya dapat kamar, mencoba istirahat. Dan memasak nasi Italia yang sebelumnya sempat kubeli, juga makan beberapa snack. Entah ini jam berapa. Tapi hari sudah malam. Melihat Vincennes dari dini hari, seperti melihat malaikat-malaikat kesunyian turun dari langit. Bangun dini hari, aku turun, mencari angin segar. Mungkin kali ini telepon bisa. Dan bisa. Di sini jam 2 dini hari, di Indonesia jam 7 pagi. Senang mendengar suara mereka. Bertemu dengan rombongan mahasiswa dari Tunisia, ngalor-ngidul tentang revolusi Tunisia  dan lelucon LMD (Licence-Master-Doctorat), jenjang pendidikan tinggi Prancis, yang mereka plesetkan menjadi “Laissez-Moi Dormir” (Biarkan aku tidur). Aku pamitan dengan mereka, lalu tidur, seperti motto itu. Ya, laissez-moi dormir, karena pagi besok harus berkemas lagi. Menuju Saint-Denis.

3 September 2012

Pengalaman pertama naik Métro, kereta cepat bawah tanah Paris. Setelah dipikir-pikir, ini benar-benar perjalanan seperti yang dialami kampusku, dari Vincennes ke Saint-Denis. Melewati banyak stasiun metro, yang berkesan di antaranya St. Lazare. Banyak nama tempat di Prancis berasal dari nama santo atau tokoh-tokoh agama. Aku melihat orang-orang membaca di metro. Paris, kota orang-orang yang rajin membaca. Sempat berkenalan dengan seorang mahasiswa India, juga mahasiswa Paris VIII. Turun di Basilique St. Denis, mencari arah Résidence L’Hermitage, tempat aku akan tinggal setahun ke depan. Suasana lengang. Dan kulihat taman kota (place) yang mulai ramai dilalui hilir-mudik orang. Akhirnya aku menemukan gedung L’Hermitage. Aku menyetor berkas-berkas, setelah antre hampir 1 jam. Mereka menerimaku dengan baik dan ramah, bahkan langsung direktur Résidence yang berkenan mengurus dokumenku. Tapi ada satu dokumen yang kurang, pernyataan asuransi penginapan. Untuk memperolehnya, aku harus ke kampusku, yang berjarak hanya 4 kilo dari sini. “Keharusan” yang mendahului waktu, sebenarnya. Karena aku ingin ke kampus untuk pertama kalinya beberapa hari ke depan, setelah semua urusan penginapanku selesai. Tapi ini tak bisa ditawar-tawar. Akhirnya aku berangkat ke Paris VIII. Pertama kali naik bus SNCF, dan pertama kali juga tiba di Paris VIII. Kampus yang sekian lama mengganggu tidurku itu kini di depan mata. Kampus yang sangat kontemporer. Sambil menunggu kantor asuransi cabang kampus buka, aku berkeliling, menemukan sisa-sisa pamflet dukungan terhadap revolusi Arab. Kantor itu ternyata tutup hari ini. Jadi aku harus pulang. Setelah sempat diberi pengertian, akhirnya mereka mau memaklumi dan mempersilakan aku menempati kamar yang telah disediakan. Hari pertama punya kamar sendiri di Paris. Benar-benar sendiri, tanpa teman atau keluarga. Kamar yang sederhana, tapi cantik, dengan tetangga rata-rata kaum imigran Afrika dan Arab. Aku melihat anak-anak bermain, di bawah bayang-bayang Basilika Saint-Denis di timur. Saint-Denis memiliki kawasan belanja yang cukup ramai. Sambil melangkahkan kaki, aku mulai mencari kebutuhan-kebutuhan dasar untuk tetap survival di Paris. Dan bersiap-siap untuk tidur malam ini tanpa bantal dan selimut.

4 September 2012

Masih dalam suasana survival. Mengurus kembali surat asuransi yang diminta pihak asrama. Di Prancis, semua diasuransikan. Termasuk kos/wisma tempat kita tinggal. Sistem securité sociale di sini benar-benar efektif, dan ketat. Tak boleh ada yang tak tercatat, atau ilegal. Semua harus terdokumentasi dengan baik. Setelah sempat bertemu pihak asuransi, ternyata ada lagi yang kurang: nomor rekening pribadi. Pihak asuransi tak dapat menjamin tanpa rekening bank. Sempat setengah mati mencari bank, karena La Poste—bank paling besar Prancis, dan paling ramah buat pelajar—baru membuka tabungan baru untuk mahasiswa seminggu lagi. Akhirnya ketemu bank. Dengan tarif asuransi yang cukup mahal, sebenarnya. Namun, karena terpaksa harus dapat surat asuransi sekarang, sedang asuransi butuh rekening bank, kupastikan mendaftar di bank itu. Dapat surat asuransi dan rekening, kusetor ke pihak asrama. Akhirnya, beres. Berarti sudah aman, tak perlu kuatir pindah-pindah lagi. Hari sudah siang. Mencari des petites monnaies, uang receh, untuk tiket metro. Sempat berputar-putar di kawasan Basilique, sampai ketemu penukaran uang. Pemandangan Basilika yang menakjubkan. Kulihat patung St. Denis dengan kepala di tangan. Santo ini konon dihukum pancung sampai kepalanya lepas. Ajaibnya, ia memegang kepalanya sendiri dengan tangannya. Kisah St. Denis adalah tragedi. Mengingatkanku pada Al-Hallaj dan Suhrawardi. Aku melewati halaman Basilika dengan mata masih terpaku pada gedung gereja kuno itu. Lalu naik metro, menuju Vincennes. Menjemput koper yang dititipkan. Melintasi lagi Paris dari bawah tanah. Sampai di Vincennes. Membawa pulang koper, dengan metro lagi. Sebelumnya sempat makan di kedai Pak Gemal, orang Aljazair, di dekat boulevard Porte de Vincennes. Sempat bercakap-cakap bahasa Arab dengannya. Jadi makin mengerti beragamnya wajah Paris. Tak ada bahasa yang tunggal di sini. Orang dapat menjadi Franko-Arab, tapi sekaligus Franko-Afrika atau Prancis saja. Pergi meninggalkan kedai, bertemu lagi dengan pengamen, tapi kali ini “baik hati”. Sesampai di St. Denis, hari sudah sore. Walaupun bagi penduduk St. Denis, ini masih “pagi”. Jam 4 sore, memang masih waktu dzuhur, bila dibandingkan dengan di Indonesia. Di sini waktu ashar mulai jam 17.30. Lalu maghrib jam 20.30. Agak aneh hidup dengan perbedaan waktu. Selesai menaruh koper, berjalan-jalan di sekitar Hôtel de Ville, kantor Walikota setempat. Kantor pemerintahan di sini nyaris tak formal. Letaknya bersebelahan dengan pasar dan pusat perbelanjaan. Lalu pergi mencari barang-barang, dan ketemu toko buku antik (librairie) di samping Carrefour. Suatu saat berjanji ke toko buku itu. Hari sudah malam. Jam 20.00. Walaupun sisa-sisa sinar matahari di ufuk masih memerah. Pulang ke kamar. Membawa mimpi membeli buku pertama di Paris.



One Response to “Des Feuilles de Paris”

  1. 1 Esthu

    Bonjour,
    Salam kenal, sy Esthu aku tinggal di Montigny Le Bretonneux, setelah aku baca artikelmu, aku merasa kamu wanita yang super.
    Sukses buat kamu


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: