Archive for the ‘percik rasa’ Category

Kemerdekaan kita hari ini adalah kemerdekaan kaum kelas menengah, bukan kemerdekaan rakyat Indonesia. Kemerdekaan negara, bukan kemerdekaan bangsa. Kemerdekaan ekonomi-politik, bukan kemerdekaan sosial. Kemerdekaan individu, bukan kemerdekaan kolektivitas.


15 Agustus 2010

15Agu10

Jika hidup benar membutuhkan etika, maka ia adalah etika untuk menolak menjadi lemah dan kalah.


29 Juni 2010

29Jun10

Seseorang tak pernah bernapas dari udara yang sama. Seseorang tak pernah dapat menulis dengan bahasa yang sama.


“Para bhikkhu, ketika si makhluk duniawi yang tak terbimbing mengalami rasa sakit, ia bersedih, berduka, dan meratap; ia menangis sambil memukul-mukul dadanya dan menjadi gundah. Ia merasakan dua perasaan—perasaan jasmani dan perasaan batin. Andaikan ada orang yang memanah seseorang dengan anak panah, lalu ia segera memanahnya lagi dengan anak panah kedua, sehingga orang itu merasakan […]