Des Feuilles de Paris (2)

19Des12

Tengah Oktober 2012

Tak ada yang menggembirakan hari-hariku di awal musim gugur yang dingin ini kecuali bisa mulai belajar dengan tenang, meski di tengah suhu yang membuat tulang-tulang dan otak serasa membatu. Kehangatan suasana kampus memberikan suntikan energi tersendiri yang mencairkan kebekuan-kebekuan “fisik” yang kadang kualami berhadapan dengan cuaca Paris seperti ini. Bila awal-awal kedatanganku di Prancis sebulan lalu yang kualami serasa bagai ujian mental, saat ini lebih terasa seperti ujian fisik, seberapa tangguh kondisi fisik menghadapi terpaan angin dingin yang seperti hendak menguji ketebalan pori-pori kulit ini.

Aku senang bertemu dengan Jean, seorang mahasiswa dan aktivis dari Haiti yang sedang menekuni Marx untuk tesisnya; pertemuan dengannya mengajariku tentang persahabatan yang tak mengenal warna kulit dan ras. Jauh-jauh dia datang dari Haiti dan belajar di Paris untuk mencari jawaban atas problem-problem sosial di negerinya terkait kapitalisme, otoritarianisme, dan demokrasi. Problem khas Dunia Ketiga, tak ubahnya di Indonesia. Jadilah pertemuan dan persahabatan kami seperti pertemanan dua “subjek postkolonial”, dua orang dari Dunia Ketiga yang pergi jauh-jauh ke Eropa untuk melihat sejarah bangsanya sendiri dari perspektif pemikiran Eropa yang pernah mengkoloninya. Hanya, Jean mungkin lebih layak menyandang sebutan itu, karena dia berangkat dari Haiti memang untuk menggeluti problem-problem sosial yang konkret yang ia hadapi, sementara aku tak persis seperti itu—belajar di Belanda akan lebih tepat untuk seorang mahasiswa Indonesia melacak postkolonialitasnya.

Tak semua mahasiswa asing yang kukenal seserius Jean, setidaknya pada kesan pertama. Beberapa di antaranya tampak masih meraba-raba orientasi filsafat dan mungkin pergulatan yang akan mereka hadapi. Sederhananya, tak semua dari mereka punya “kesadaran politik” yang terbentuk sebelum berproses di kampus. Mungkin mereka akan menemukan jalan ke arah itu lewat gesekan-gesekan di organisasi-organisasi sindikal yang cukup meriah di sini—dari organisasi yang beraliran “hijau” (ekologi radikal) sampai “merah” (sosialis, komunis, Leninis, Trotskys, dst.), dari organisasi hobi dan senang-senang sampai organisasi etno-nasionalis (pro-Palestina, Aljazair, dst.). Atau mereka akan menemukan lewat jalan lain, lewat “jalur sunyi”, lewat pemikiran dan teori-teori yang didiskusikan di dalam kelas atau bacaan-bacaan di perpustakaan. Semua mungkin terjadi. Entah lewat jalur depan atau jalur belakang, atau dua-duanya, “kesadaran politik” itu merupakan sesuatu yang potensial meletup di tengah suasana kampus dan Paris pada umumnya, yang sangat mendukung bagi suburnya aktivisme sindikal.

Pelan-pelan aku menemukan ketersambungan antara pemikiran dan aksi, antara diskursus dan wacana yang terbentuk di ruang-ruang kelas dan motivasi untuk berbuat sesuatu di luar kampus. Ketersambungan itu tidak niscaya terlihat, tapi kenyataannya selalu terjadi diam-diam tanpa disadari. Dari luar dan secara lahir, tak tampak wajah-wajah militansi pada profesor-profesor yang kutemui; mereka mengajarkan dan mendiskusikan filsafat dan teori-teori “perlawanan” dengan dingin dan santai—kata-kata “revolusi” berseliweran nyaris tanpa ekspresi, seakan-akan itu istilah yang tidak istimewa atau biasa-biasa saja. Tak tampak pretensi pada penampilan mereka sebagai pemikir yang harus disegani dan dihormati karena mengajarkan sesuatu yang “wah”, yang bisa mengguncang dunia. Mereka mengajar dan hanya mengajar, sering kali dengan intonasi suara yang halus seperti hendak membacakan puisi atau sekadar bercakap-cakap. Tapi, mereka tentu saja mengajarkan sesuatu yang besar, suatu hal yang jelas hasilnya tak bisa langsung dimamah seketika, tapi mesti dicerna pelan-pelan untuk kemudian dikembangkan dalam praksis. Agak berbeda sepertinya dengan di Indonesia, di mana banyak di antara mereka yang disebut-sebut “intelektual”, “pemikir”, “filsuf”, atau “tokoh publik” cenderung selalu ingin dominan dan menjadi nomor satu, ingin tampak gagah di depan publik yang ia harap menyimaknya dengan penuh kekaguman setengah mati. Mungkin itu terjadi karena perlakuan kita yang kelewat berlebih terhadap figur ketokohan; suatu kultur paternal yang menggerayangi dunia pemikiran dan juga penulisan. Suatu kultur yang menahbiskan seseorang dan memberinya harapan muluk untuk menjadi sang pengucap sabda, dengan kata-katanya yang bagai mantra di hadapan khalayak yang mendengarnya.

Salah satu profesor dengan tipikal seperti di atas, mungkin, adalah Peter Hallward, seorang filsuf muda dari Inggris yang tahun ini diundang mengajar di sini, pemikir yang terkenal dengan dua studinya yang mendalam tentang Alain Badiou dan Gilles Deleuze. Belajar bersamanya tak menyiratkan kesan sama sekali bahwa kami, para mahasiswanya yang cuma delapan orang itu, tengah belajar bersama seorang redaktur jurnal Radical Philosophy yang radikal itu. Jauh dari kesan itu, sosok dan gaya tuturnya tampak terlalu “lugu” dan “halus” untuk seorang filsuf yang menulis tentang Badiou dan terlalu inosens untuk seseorang yang begitu fasih mengutip Mao dan Lenin. Ia memanggilku “Muhammad”, dan suatu saat ia memintaku membacakan sebuah paragraf dari sebuah teks filsafat, sebelum mengulasnya panjang lebar dengan interpretasinya sendiri. Sebuah cara cerdas merangsang mahasiswa agar tidak pasif dan hanya mendengar kuliah yang disampaikan.

Beberapa profesor, lebih tua dan senior daripada Hallward—salah seorang dari mereka merupakan murid dari Canguilhem, guru Foucault, dan dengan demikian satu angkatan dengan Foucault, meski lebih muda—juga tak pernah menampakkan diri menonjol, meski punya sederet karya penting dan pengalaman berguru dengan nama-nama macam Hyppolite, Althusser, Lacan, Foucault, Deleuze, atau Derrida. Mereka hilir mudik bersama mahasiswa seperti bukan siapa-siapa, mengajar dan mungkin menulis seolah tak ada sejarah di balik mereka.

Dari sebuah bangku di depan kafetaria, aku memandang dinding-dinding kampus yang tampak kusam di saat-saat cuaca mendung seperti ini. Namun denyut kehidupan tetap berjalan di dalamnya, dengan keriangan dan kehangatannya sendiri, juga kebekuan dan ketakacuhannya, seperti ritme kehidupan di Paris yang selalu sibuk dikejar dan mengejar waktu.



No Responses Yet to “Des Feuilles de Paris (2)”

  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: