Deviktimisasi Minoritas

23Jul13

Muhammad Al-Fayyadl

Kelompok-kelompok dominan diuntungkan dengan sektarianisme dalam masyarakat, namun wacana-wacana dominan yang memungkinkan terus eksisnya kelompok-kelompok tersebut diuntungkan oleh ketidakmampuan masing-masing kelompok yang bertikai untuk menjadi subjek atas eksistensi mereka sendiri.

Demikianlah, kepada “minoritas”, kita menyebut mereka sebagai “korban”. Dan kepada para eksekutornya, kita menyebutnya “pahlawan” atau “preman”. Di sini, kita akan mencoba melihat bagaimana kedua kelompok tersebut sebenarnya tengah sama-sama dilumpuhkan oleh kelompok yang lebih dominan, yang menjadikan para eksekutor instrumen untuk memukul kelompok yang pertama, demi “keamanan dan ketertiban”, dan menjadikan “korban” di sisi lain sebagai kelompok yang secara langsung mengalami penderitaan di bawah eksekusi, namun tetap dibiarkan bungkam dan lumpuh dalam statusnya sebagai “korban”.

Sangat sulit untuk menyadari bahwa dengan menyebut “korban” terhadap minoritas—Syi’ah, Ahmadiyah… —kita diam-diam berpartisipasi dalam memperkuat sistem yang dominan. Penyebutan itu terasa natural dan wajar, karena kita mendengar, membaca, dan mereproduksinya dari persepsi publik yang terbentuk pasca-peristiwa. Namun penyebutan itu sebenarnya memiliki efek ganda, karena ia tidak sekadar menempatkan kaum minoritas tertentu yang menjadi sorotan sebagai objek simpati dan mobilisasi solidaritas publik terhadapnya, namun juga menjadikan minoritas itu sebagai korban untuk kedua kalinya: korban dari persekusi dan eksekusi para eksekutornya, dan korban dari persepsi mayoritas yang terus menempatkannya sebagai korban.

Bila efek pertama terasa langsung dari persentuhan antara kekerasan dan tubuh minoritas, antara batu dan api yang membakar rumah mereka dan membuat mereka terusir dari kampung halaman, efek kedua lebih samar, namun jauh lebih efektif dan bertahan lama, karena ia memproduksi dan mereproduksi kekerasan itu pada taraf kolektif, kekerasan yang melanggengkan ketidaksetaraan di dalam masyarakat dengan menempatkan korban sebagai objek pasif dalam hubungannya dengan “mayoritas” dan kelompok dominan.

Benarkah komunitas Syi’ah di Sampang merupakan “korban”? Dalam arti apa mereka merupakan korban? Siapa yang mendefinisikan bahwa mereka merupakan korban?

Definisi “korban” tidak muncul seketika. Seorang pengikut Syi’ah yang rumahnya dibakar dan diamuk oleh massa, lalu menyelamatkan diri dengan ketakutan, tidak memahami diri mereka sebagai korban, tetapi dapat merasakan bahwa dirinya merupakan objek kebencian dari sekelompok orang lain yang tidak menyukai keberadaannya. Objek kebencian, ia, namun demikian masih mendefinisikan dirinya sebagai subjek yang secara potensial dapat melawan kebencian itu, entah dengan klarifikasi atau protes, entah dengan jalan persuasif atau oposisi, di tengah keterbatasan-keterbatasannya dari segi kuantitas di hadapan kelompok yang membencinya. Penderitaan yang dialaminya secara langsung merupakan alasan yang kuat bagi potensi itu, karena penderitaan ini memungkinkan dirinya dan kelompoknya mendefinisikan diri sebagai subjek hukum untuk menuntut si pelaku. Namun faktor-faktor darurat dari situasi yang terjadi pada momen itu tidak memungkinkannya untuk menarik konsekuensi yuridis dan politis dari penderitaan ini, kecuali menundanya sampai suatu momen yang memungkinkan penderitaan itu diungkapkan dan diterjemahkan ke dalam bahasa hukum dan politis—suatu momen di mana pengalaman diterjemahkan menjadi bahasa konsep, di mana penderitaan menjadi bahasa perlawanan.

Momen itu, dalam suatu gerak brutal, direbut kemudian oleh persepsi publik yang terbentuk terlepas dari diri mereka sebagai minoritas. Persepsi yang melahirkan suatu opini bahwa karena mereka minoritas, maka dalam situasi pengusiran dan eksekusi itu, mereka merupakan korban. Mereka merupakan korban, karena mereka dipandang sebagai objek kebencian yang mengalami kekerasan dari suatu kelompok yang dipandang lebih kuat, sehingga mereka otomatis dipandang lebih lemah, dari segi kekuatan, jumlah, dan pengaruh. Ketidakmampuan mereka di saat-saat darurat itu untuk menyatakan suatu reaksi yang berimbang atas kekerasan yang mereka derita dari si pelaku, membuka setitik celah bagi persepsi publik untuk membangun suatu konsepsi tentang ketidakmampuan mereka secara permanen, yaitu bahwa mereka menjadi korban, karena mereka benar-benar dan selamanya tidak mampu. Konsepsi ini pada gilirannya bukan hanya dianut oleh publik itu sendiri, sebagai “mayoritas” yang tidak terkena dampak langsung dan menemukan diri mereka tertarik dan bersimpati pada persoalan itu, tetapi juga dianut oleh minoritas, yang menginternalisasinya menjadi kesadaran bahwa mereka, minoritas, merupakan korban.

Momen yang paling kritis terjadi ketika identifikasi minoritas sebagai korban ini terjadi secara permanen, dan semakin diperkuat oleh ketidaksadaran publik dalam memposisikan hubungannya dengan minoritas. Di satu sisi, pada sisi subjektif dan internal kaum minoritas, mereka memahami dan mendefinisikan diri mereka dalam kategori-kategori yang dibuat oleh mayoritas publik, tanpa mereka menyadarinya, yaitu bahwa sebagai korban, mereka memang merupakan korban. Tidak muncul kesadaran bahwa sekalipun korban, mereka tidak selamanya menjadi korban, karena mereka adalah kelompok yang setara dengan kelompok-kelompok lain yang memiliki hak-hak yuridis-politis di hadapan negara yang harus mereka tuntut. Secara khusus, tidak muncul kesadaran politis bahwa keminoritasan mereka tidak otomatis menjadikan mereka pihak yang lebih lemah, dan karenanya lebih inferior, di dalam masyarakat. Di sisi lain, pada sisi objektif, dengan mengidentifikasi minoritas sebagai korban, publik tidak menyadari bahwa ia tengah membangun relasi yang, alih-alih membebaskan, membelenggu minoritas yang hendak dibelanya di hadapan negara dan aparatur, dengan menciptakan secara tak sadar hubungan subordinatif yang terus menempatkan minoritas sebagai objek yang patut dikasihani.

Solusi-solusi karitatif—bantuan-bantuan kemanusiaan—yang biasanya menjadi pilihan spontan dan pragmatis begitu persoalan minoritas itu muncul ke permukaan, dengan demikian, bukan bagian solusi, tetapi masalah itu sendiri. Solusi karitatif, terlebih bila dilembagakan, merupakan ekspresi dari ketimpangan dan kesenjangan yang dibentuk oleh hubungan subordinatif itu; dan tak ada yang lebih merisaukan daripada ketika aksi karitatif ini menjadi alat bagi kelompok yang dominan—partai politik yang berkuasa, para politisi kaya yang berebut pengaruh—untuk menarik simpati dan memberikan citra kedermawanan di hadapan minoritas.

Sebagian solusi dari kaum “pluralis”, sayangnya, masih terpusat pada model karitatif, dan itu membuat kita layak bertanya tentang model solidaritas apa yang bisa dibangun tanpa terjatuh ke dalam model karitatif yang tipikal ini. Sebagian lain mengambil model rekonsiliasi dan mediasi antara pihak-pihak yang bertikai. Namun model ini juga meragukan, karena ia menghapus tanggung jawab eksekutor dan pelaku kekerasan dan, dengan demikian, menghapus penderitaan minoritas itu dengan memaksanya secara halus untuk memaafkan si pelaku.

Kedua model ini belum dapat memikirkan bagaimana minoritas dapat menjadi subjek yang dapat berbicara dan menuntut haknya untuk eksis. Dengan kata lain, bagaimana minoritas dapat memikirkan dirinya bukan lagi sebagai korban, tetapi subjek politik yang berdaya dan memiliki kekuatan untuk membela eksistensinya sendiri.[]



2 Responses to “Deviktimisasi Minoritas”

  1. 1 Triatno Yudo Harjoko

    Tulisan yang menarik . . lagi . . . thanks . .

    Maaf saya, ada beberapa konsep/istilah yang saya ingin cermati: pertikaian/konflik, ‘minoritas’ & ‘korban’.

    Minoritas tidak selalu identik dengan ‘korban’ – oppressed minority, tetapi lawannya oppressive minority = minoritas tirani;

    Konflik dapat dipicu oleh masalah religi/keyakinan, keadilan (secara ekonomi); artinya konflik dipicu oleh ide yang terkait nilai-nilai yang ‘berseberangan’. Ide atau bahkan ideologi ini tumbuh-kembang dalam benak aktor pencetus, pendukung ditataran ‘tertinggi’, ‘segelintir’ – tidak secara signifikan menunjukkan magnitude yang massive.

    Konflik terjadi tiga tahap: 1) hanya berselisih (dispute) – jika perselisihan tidak dapat diselesaikan, meningkat ke tahap berikut 2) ‘perang’ (war) – perselisihan secara fisik; dan jika ‘perang’ ini juga tidak berakhir, akan berlanjut ke tahap akhir ‘abadi’ – permusuhan tanpa akhir (feud) – seperti bangsa Palestina dan Israel.

    Pertentangan yang tidak mungkin bersepakat untuk tidak sepakat – mendorong ‘perang’. ‘Perang’ yang sebenarnya ada di level ‘atas’ (ideologis dll) ditanggapi secara ‘gagah berani’ oleh aktor di level paling bawah.
    ‘Korban’ muncul di level ini ‘bawah’ yang tidak ikut ‘berperang’ secara ideologis – alias ketiban sial . . .

    Penjelasan solusi karitatif . . . akhirnya juga bisa bias atau malah nggak jelas dalam upaya mencari re-solusi (bukan solusi . . .).

    Salam,

    Gotty

  2. 2 Any R

    Tulisan menarik

    peng ‘korban’ an memang memiliki efek ‘melumpuhkan’ subjektivitas. Secara psikologis “korban” akan menganggap diri mereka syah utk dikasihani, merasa lemah, dan tidak bertindak apa2 karena kelemahannya itu.

    Namun di satu sisi, peng ‘korban’ an ini yg menimbulkan kesadaran dan gerakan sosial untuk melawan.

    Sy pikir ada efek individual (pd korban) dan efek kolektif (pd kesadaran sosial).

    Tergantung mana mudharat dan yg lebih menimbulkan efek baik. Melihat mereka sebagai korban utk kemudian didampingi dan dijadikan subjek melalui ruang-ruang bicara yg diciptakan bersama mayoritas-mayoritas yg sadar, sy pikir menjadi perpaduan yg selama ini banyak terjadi di Indonesia.

    Salam dari Indonesia,
    Any Rufaedah

    Btw, lebaran pulang ke Indonesia tdk?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: