Dekonstitusi Diri

07Okt12

Kata pengantar atas buku Any Rufaedah, “Freud tentang Manusia: Sebuah Pengantar” (Malang: Averroes Press, 2012)

Muhammad Al-Fayyadl

Psikoanalisis Freud (baca: Froid) merupakan salah satu temuan terpenting abad ke-20 yang mengubah secara dramatis cara kita memandang “manusia”. “Siapakah manusia?” adalah pertanyaan yang tak habis didengungkan sejak manusia, dengan rasionalitasnya, mulai berpikir dan berusaha memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Lahirlah antropologi filosofis yang mencoba memberikan pendasaran filosofis atas siapa sesungguhnya manusia itu; adakah hakikat terdalam yang mencirikan manusia itu sendiri; dan sekian pertanyaan lainnya.

“Antropologi filosofis” adalah jalan paling tua, di luar agama, yang ditempuh untuk memahami manusia. Jalan ini diretas oleh Sokrates, dilanjutkan oleh Plato, Plotinus, dan Neoplatonisme, dengan cara yang amat kompleks dan variatif. Tanpa mengabaikan kerumitan detail-detail filsafat mereka, satu gagasan penting yang dilahirkan oleh jalan antropologi filosofis ini adalah distingsi antara jiwa (psukhē)dan tubuh (soma) sebagai dua hal yang membentuk sosok “manusia”.

Apa yang penting dari gagasan ini adalah bahwa untuk pertama kalinya, ia memperkenalkan suatu pemikiran yang mungkin tanpa preseden sebelumnya, kecuali pada beberapa kepercayaan arkhaik seperti Manicheanisme, tentang dualitas dalam “diri” manusia. Secara langsung, gagasan ini menyingkapkan kenyataan bahwa manusia bukan suatu wujud yang tunggal, melainkan tersusun, terbentuk, dan dikomposisi dari dua hal besar, tubuh dan jiwa, yang masing-masing memiliki karakter berbeda. Jika demikian, maka ketunggalan manusia adalah suatu bayangan ilusif, atau setidaknya, suatu tampakan di permukaan yang mengecoh. Gagasan tentang dualitas ini, namun begitu, tidak berhenti sampai di sini, karena ia memunculkan pertanyaan lanjutan: jika tidak ada ketunggalan, lalu bagaimana ia dapat disebut “manusia”?

Terdapat ketegangan dalam pemikiran antropologi filosofis ini antara upaya untuk meyakinkan kita akan keutuhan, unitas, dan ketunggalan manusia, seperti tampak pada teks Plato, Parmenides, dengan pembuktian yang menunjukkan kenyataan sebaliknya, seperti pada teks Plato yang lain, Phaedo. Namun, ketegangan ini hanya semakin memperkuat gagasan dualitas itu. Gagasan ini terus diperdalam dengan serangkaian pertanyaan mengenai status ontologis tubuh dan jiwa, relasi masing-masing keduanya, dan karakteristik yang membedakan satu sama lain.

Dalam diskusi atas persoalan-persoalan terakhir ini, namun demikian, ada satu hal yang samar-samar mulai tampak sejak saat itu: bahwa gagasan dualitas ini tidak menjamin kesetaraan antara jiwa dan tubuh sebagai dua unsur yang saling berkombinasi membentuk “manusia”. Muncul suatu pemikiran bahwa, jika manusia tersusun dari jiwa dan tubuh, maka keduanya pastilah memiliki status ontologis yang secara esensial berbeda, sehingga menuntut perlakuan yang berbeda. Dalam susunan itu, tubuh memiliki status ontologis yang menempatkannya sebagai substratum bagi jiwa, yang dengan demikian, memiliki status ontologis yang lebih tinggi daripada tubuh.

Pertanyaannya adalah: bagaimana gagasan dualitas, yang menyiratkan kesetaraan di antara dua hal dalam satu wujud, berubah menjadi gagasan hierarkis tentang jiwa dan tubuh sebagai stratum dan substratum? Terdapat lompatan yang begitu samar dan tidak terlalu jelas terjawab di sini, namun menunjukkan bahwa ada suatu bias metafisis, yang bersumber dari kepercayaan religius atau filsafat alam saat itu, yang meresapi antropologi filosofis ini. Bias ini menempatkan jiwa dalam posisi yang sakral karena dekat dengan keilahian (the divine), sementara tubuh sebagai sesuatu yang profan karena dekat dengan makhluk fana (the mortal).

Karena filsafat merupakan pencarian akan yang absolut, dan yang absolut itu dipahami bersifat ilahi, maka muncul suatu skema penjenjangan yang membentuk suatu pendakian dari yang lebih rendah ke yang lebih tinggi, dengan gerak vertikal ke atas dalam suatu bentuk pelampauan; dalam hal ini, pelampauan atas tubuh oleh jiwa. Jiwa mesti melampaui tubuh untuk mencapai yang absolut. Konsepsi ini kemudian mengantar antropologi filosofis untuk bergerak lebih jauh memikirkan jiwa.

Dalam hubungannya dengan jiwa, tubuh tidak pernah mendapatkan porsi pembahasan yang setara, karena tubuh dikonsepsikan semata-mata sebagai terminal jiwa ke tingkat yang lebih tinggi. Karena sekadar merupakan terminal, maka tubuh bergantung pada jiwa, dan hanya memiliki arti dalam relasinya dengan jiwa. Apa yang penting di sini adalah bahwa pelampauan jiwa atas tubuh dilakukan karena tubuh merupakan tempat hasrat-hasrat yang terus berkonflik. Sementara, karena tujuan filsafat adalah mencari harmoni, maka tempat itu harus dilampaui.

Sampai di sini, kita baru mengerti motif mengapa konsep dualitas jiwa dan tubuh berubah menjadi konsepsi hierarkis-stratifikatif; tak lain ialah karena ada suatu telos atau tujuan akhir, yaitu gagasan tentang harmoni, yang diselipkan diam-diam ke dalam gagasan deskriptif tentang dualitas jiwa dan tubuh. Hierarki diperlukan untuk meredam konflik, karena dengan peletakan dualitas secara hierarkis, konflik lebih mudah dilampaui dengan mendorong yang subordinat kepada yang vertikal.

Namun, apakah pelampauan menuju jiwa ini secara otomatis telah menghilangkan konflik pada level ketubuhan itu, konsepsi antropologi filosofis tidak memberikan jaminan seperti diharapkan, karena menurut Plato, jiwa sekalipun pada dirinya bersifat konfliktual.

Plato tidak secara spesifik menyebut konflik itu, tetapi ia menggambarkan jiwa sebagai suatu entitas yang terus-menerus menggerakkan dirinya (autokineton). Di dalam entitas ini, terdapat dua unsur terbesar yang merepresentasikan dimensi rasional dan irasional jiwa—rasio dan nafsu, logistikon dan alogistikon—yang dimediasi oleh unsur ketiga, thumos, yang merepresentasikan dimensi afektivitas manusia.

Terdapat suatu kekuatan yang disebutnya sebagai eros, yang mendorong ketiga unsur ini. Suatu penjenjangan kembali terlihat, di mana eros pada level terbawah yang melahirkan nafsu harus dilampaui agar pergerakan jiwa sampai kepada dimensinya yang rasional, logistikon. Hal ini berarti bahwa terdapat setidaknya dua pelampauan: bukan hanya tubuh yang mesti dilampaui menuju jiwa, tetapi di dalam jiwa, jiwa irasional mesti dilampaui menuju jiwa rasional. Di dalam pelampauan itu, tidak dapat dibayangkan terjadi pergerakan secara “normal”; ia melibatkan pastinya suatu konflik, gesekan, atau percikan benturan, yang membuat salah satunya terpaksa dinomorduakan, ditahan, atau ditekan, demi memungkinkan pelampauan itu terjadi. Itu sebabnya, Plato menekankan suatu “disiplin erotik”, pendisiplinan atas eros pada level irasional agar terbiasa bergerak pada dimensinya yang rasional.

Jalan keluar dari dualitas antropologi filosofis ini, yang mengajarkan hierarki tubuh-jiwa, menyadari konflik, namun menjadikan pelampauan berbasis pada hierarki itu sebagai cara menghindari konflik itu, datang dari Aristoteles dengan psikologinya. Psikologi ini, berbeda dari antropologi filosofis Sokratik atau Platonik, menjadikan jiwa sebagai objek kajian khusus dengan pendekatan semi-empiris yang berpusat pada perhatian akan gejala-gejala yang manifes pada tubuh. Di sini, jiwa tidak diletakkan pada level abstraksi-spekulatif, tetapi ditaruh di hadapan pengamatan perseptual sang pengkaji, yang menarik kesimpulan-kesimpulan dari hasil pengamatannya.

Untuk menghindari dualitas itu, Aristoteles mengajukan konsepsi hylomorphisme, kesatuan antara forma (morphē) dan materia (hulē), “bentuk” dan “materi”, dalam substansi. Aristoteles memahami manusia sebagai “substansi” (ousia) yang eksis pada dirinya dan independen dari yang lain, yang hadir sebagai suatu individualitas. Itu berarti bahwa “manusia” bukan suatu konsepsi abstrak, melainkan entitas konkret yang selalu berwujud seseorang tertentu. Dalam substansialitasnya, manusia tidak berbeda dengan entitas-entitas lain, seperti tumbuhan dan binatang.

Dari gagasan substansi ini terbaca suatu logika non-dualitas yang hendak ditawarkan Aristoteles: bahwa agar suatu substansi terbentuk, maka harus diandaikan kesatuan antara “bentuk” dan “materi”, antara jiwa-manusia yang merupakan bentuk abstrak “kemanusiaan” (yang membedakannya dengan jiwa-binatang dan jiwa-tumbuhan, misalnya) dengan tubuh yang memberi wujud material bagi bentuk abstrak itu, sehingga muncul entitas konkret sesosok manusia. Sebagai konsekuensinya, maka jiwa tidak dapat dipisahkan dari tubuh, karena jiwa tidak dapat dikenali tanpa tubuh. Sebaliknya, tubuh tidak mungkin terpisah dari jiwa yang menghidupi tubuh itu, sehingga tubuh itu dikenali sebagai manusia. Kesatuan keduanya bersifat organik dan menyeluruh, sehingga tidak mungkin membayangkan salah satu keduanya terpisah, sejauh yang hendak dibicarakan adalah entitas konkret bernama “manusia”.

Psikologi Aristoteles ini—dapat disebut sebagai “psikofilosofi” atau filsafat kejiwaan—memberikan fondasi bagi psikologi modern. Satu benang merah penting antara psikofilosofi dan psikologi modern adalah pemahaman tentang jiwa sebagai suatu fenomena afektif yang dapat dikaji dengan memperhatikan reaksi-reaksi tubuh. Untuk memahami afektivitas dan reaksi tubuh yang dihasilkannya, Aristoteles berasumsi bahwa jiwa memiliki sejumlah fakultas yang saling mendukung. Dua fakultas terpenting adalah pikiran (nous) dan keinginan (orektikon). Keinginan menghasilkan gerak yang tertuju kepada objek yang diinginkan. Tetapi keinginan tidak mencapai entelecheia-nya, tujuan akhirnya (telos), kecuali bersama pikiran yang mengarahkan agar keinginan itu terpenuhi. Pertemuan antara keinginan dan pikiran melahirkan reaksi-reaksi tubuh berupa tindakan menuju objek itu.

Keterhubungan antara gerakan internal jiwa berupa keinginan dengan gerakan eksternal berupa reaksi tubuh dan tindakan—motif ini nantinya dieksplisitkan oleh psikologi behavioral, yang mengukur kondisi psikis dari stimulus dan respons perilaku tubuh, atau juga psiko-fisiologi yang menyatakan bahwa penelitian atas kondisi psikis mesti mengacu pada parameter-parameter fisik.

Ketika psikologi modern semakin kukuh menjadi disiplin keilmuan yang independen, secara bertahap ia memisahkan diri dari psikofilosofi Aristotelian. Tetapi, psikofilosofi ini meninggalkan suatu konsepsi penting, yang tetap terpahat kuat dan berpengaruh dalam psikologi modern, yaitu gagasan tentang individualitas manusia—manusia sebagai kesatuan tak terbelah (in-divide).

Psikologi modern, seperti kita ketahui, mengkaji fenomena-fenomena mental yang secara luas meliputi emosi, perasaan, persepsi, respons, reaksi, komunikasi, rangsangan (stimuli), kognisi, hubungan interpersonal, dan seterusnya. Berbagai fenomena mental ini secara mendasar merujuk pada kondisi-kondisi psikis-afektif yang dialami oleh individu. Psikologi mengarahkan penelitiannya pada manusia sebagai individu yang mengalami kondisi-kondisi mental tersebut, agar yang bersangkutan dapat memahami persoalan psikis yang menimpa dirinya, dan pada gilirannya menemukan pemecahan atas persoalan itu.

Karena berurusan dengan pengalaman mental yang manifestasinya langsung dapat ditangkap oleh sang psikolog, maka orang yang merasakan pengalaman mental itu mesti diasumsikan sebagai pihak yang sadar-diri (self-conscious) dan menunjukkan, melalui kesadaran itu, bahwa ia memiliki problem psikis yang membutuhkan penanganan. Dalam hal ini, meski orang tersebut menyadari kondisi psikisnya, fakta psikis-mental itu diasumsikan tidak terpisah dari penampakan fisik-fisiologisnya. Kesatuan antara psikis dan fisik ini merupakan motif mendasar dari individualitas psikologi modern.

Konsepsi ini berjumbuh dengan doktrin rasionalisme Cartesian pada abad ke-17 dan ke-18 yang mengasumsikan ego cogito, “aku yang berpikir”, sebagai suatu entitas utuh yang sadar-diri dan menjadi prinsip penggerak tubuh. Individualitas pada level psikologis bertemu dengan individualitas pada level ontologis. Proses dan transformasi pertemuan kedua individualitas ini, walaupun begitu, berlangsung rumit. Hal ini melibatkan perubahan psikologi modern dari penelitian-penelitian di laboratorium ke dalam suatu tipe pengetahuan baru yang disebut sebagai “psikiatri” yang berlangsung di asylum, penjara, atau rumah sakit jiwa. Pendekatan psikologi semakin terasionalisasi dalam psikiatri, di mana orang yang mengalami penyakit mental ditangani agar dapat sembuh dan menjadi rasional kembali sebagai “individu”, namun jika tak berhasil, dieksklusi sebagai “tidak normal”, “menyimpang”, atau “gila”.

Dalam psikiatri, yang menjadi standar, kembali, adalah perilaku dan gestur-gestur fisiologis. Karena psikiatri merupakan perkawinan silang antara psikologi dan kedokteran, maka perilaku yang menjadi bahan evaluasi apakah si pasien sedang menderita penyakit patologis atau tidak, didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan medis, yang akan menilainya dari perubahan bio-fisiologis pasien. Terdapat kesamaan antara pendekatan ini dengan konsepsi Descartes tentang tubuh sebagai “patung” atau “mesin” bagi pengamat (ego), yang mobilitasnya menjadi parameter apakah tubuh itu sehat atau sakit.

Di tengah psikologi yang semakin tertarik mendalami penyakit-penyakit mental manusia (psikopatologi) dan berkembangnya ilmu kedokteran mengenai penyakit mental (patologi klinis), di satu sisi, dan rasionalisme filosofis Cartesian, di sisi lain, lahir “psikoanalisis” pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 sebagai suatu pendekatan baru untuk memahami teka-teki “manusia”.

Mungkin terlalu dini untuk menyebut bahwa pada mulanya, psikoanalisis hendak berbicara tentang “manusia”, atau hendak menjawab pertanyaan-pertanyaan filosofis mengenai “siapa itu manusia”. Di awal kelahirannya, psikoanalisis tidak berpretensi menjadi suatu paradigma baru yang hendak mengatasi persoalan-persoalan yang tidak terjawab oleh antropologi filosofis, psikofilosofi, psikologi modern, atau rasionalisme Cartesian. Sedikit paparan di atas belum cukup memadai untuk menarik suatu garis yang tegas antara psikoanalisis dan sederatan konsepsi besar ini. Tetapi apa yang penting adalah, dilihat dari capaian kumulatifnya, psikoanalisis Freud mengajukan suatu konsepsi baru yang, jika dibandingkan dengan sejumlah paradigma besar di atas, memberikan pandangan yang cukup mengejutkan dan unfamiliar tentang “manusia”.

Freud menunjukkan, melalui serangkaian praktik dan keterlibatan dengan pasien-pasiennya, bahwa manusia bukan suatu individualitas yang utuh dan penuh, melainkan suatu sosok yang tersusun dari suatu keterbelahan inheren (Ichspaltung). Keterbelahan itu adalah ko-eksisnya kekuatan-kekuatan yang saling bertolak belakang dalam setiap ego atau keakuan manusia. Tesis Freud menyebutkan, terdapat tiga unsur kekuatan—Id, Ego, Superego—yang menyusun diri manusia tapi sekaligus berkonflik di dalamnya. Tiga unsur ini dapat disederhanakan dengan keterbelahan pada dimensi yang lebih mendasar, yaitu keterbelahan ketaksadaran dari kesadaran.

Kalau ada suatu gagasan pokok yang mempertemukan—atau menjalin—berbagai gagasan kunci Freud, dapat dipastikan itu adalah konsepsi ini. Konsepsi ini merupakan langgam yang merupakan psike dari psikoanalisis itu sendiri, yang menyambungkan berbagai aliran psikoanalisis Freudian atau post-Freudian, termasuk dalam bentuknya yang paling kontemporer dalam psikoanalisis Lacanian.

Psikoanalisis dipahami Freud sebagai pendekatan untuk memahami keterbelahan ini. Apa arti bahwa diri manusia terbelah dalam kesadaran dan ketaksadaran? Misi psikoanalisis adalah memberikan jawaban atas persoalan ini.

Di sini Freud mengajukan serangkaian analisis yang menunjukkan bahwa kesadaran—pusat perhatian psikologi dan psikiatri, serta filsafat pra-Freud—diakui sebagai “kesadaran”, karena ia menekan ketaksadaran, yang tersembunyi di bagian terdalam psike. Tekanan ini menciptakan represi terus-menerus atas ketaksadaran, yang kemudian muncul dalam bentuk-bentuk yang lain sebagai tiruan kesadaran—misalnya, dalam mimpi.

Psikologi tidak dapat menjangkau hal ini, karena pengamatannya berhenti pada respons-respons mental yang terlihat dari kesadaran. Psikiatri sudah dapat mengenali implikasi-implikasi ketaksadaran yang bersifat patologis, namun belum melihatnya dalam konteks keterbelahannya dengan kesadaran. Sekilas, pandangan Freud ini dapat dibandingkan dengan Plato, yang membagi jiwa ke dalam “jiwa rasional” dan “jiwa irasional”. Namun, dilihat dari psikoanalisis, Freud adalah kebalikan Plato: jika Plato merepresi jiwa irasional demi jiwa rasional, Freud mempersoalkan represi itu.

Hubungan antara kesadaran dan ketaksadaran, dengan demikian, dipahami Freud bukan hubungan yang damai. Keterhubungan keduanya berlangsung dalam suatu ritus “ekonomi kekerasan”. Kesadaran merepresi ketaksadaran yang melahirkan suatu dorongan, yang direpresi kembali (diresistensi) oleh kesadaran. Represi ini, di satu sisi, merupakan suatu kekerasan atas ketaksadaran, yang terus dipelihara sebagai kedok ilusif kesadaran untuk mengkonstruksi keutuhannya. Di sisi lain, represi ini merupakan keharusan, sebagai syarat bagi kelangsungan kehidupan (misalnya, dalam represi atas dorongan kematian).

Kekerasan ini lebih lanjut direproduksi juga pada level superego, bagian dari psike yang berperan sebagai polisi moral dan sosial terhadap dorongan-dorongan tak sadar id. Superego menekan id untuk menjamin konformitas dengan norma-norma dominan. Di sini terlihat kritik Freud terhadap tatanan sosial sebagai tatanan yang menciptakan dan melanggengkan keterbelahan psike. Karena itu, tak heran bila nanti, dalam analisisnya tentang kebudayaan, Freud melihat kebudayaan secara mendasar sebagai tatanan yang mengandung kekerasan karena menekan, melalui norma dan hukum, dorongan-dorongan terdalam psike agar tak muncul ke permukaan.

Keterbelahan ini memiliki konsekuensi yang panjang—rute bagi signifikansi psikoanalisis bukan saja sebagai teoretisasi tentang psike, tapi juga kritik sosial dan kebudayaan, serta politik. Untuk lebih memahami konsekuensi keterbelahan itu secara menyeluruh, dan tidak berhenti hanya pada hipotesis represi, berikut problem-problemnya, kita perlu mempelajari fase-fase kritis di mana Freud membangun psikoanalisis. Buku Any Rufaedah ini dapat membantu kita memahami sekelumit sejarah psikoanalisis seperti dipraktikkan oleh Freud sendiri.

Telah cukup banyak, selama ini, buku yang terbit mengenai psikoanalisis, tetapi umumnya buku-buku tersebut berupa terjemahan, baik terjemahan atas versi Inggris teks Freud maupun terjemahan atas karya-karya kesarjanaan asing tentang Freud. Upaya Any untuk menjelaskan Freud dengan bahasa sendiri, dan mempresentasikannya dalam suatu paparan yang padat, merupakan kerja yang patut diapresiasi.

Secara teoretis, sebenarnya belum terbaca hal yang benar-benar baru dari deskripsi Any tentang psikoanalisis. Hal ini dapat dimaklumi, karena Any berniat sebatas memaparkan konsepsi umum Freud tentang “manusia”. Any juga tidak menggarisbawahi implikasi dari pandangan Freud tentang “manusia” pada diskursus subjektivitas, yang pastinya akan menarik karena mengkonfrontasikan Freud dengan psikoanalisis Lacanian. Pencarian Any pada pandangan Freud tentang “manusia” masih menyisakan suatu nostalgia “humanistis”, yang hari ini telah banyak dipertanyakan.

Namun, yang cukup istimewa dari buku ini, Any tampaknya mulai berhasil memfokuskan diri pada Freud dan psikoanalisis—tidak seperti beberapa penulis lainnya yang masih mensubordinasikan psikoanalisis di bawah psikologi umum. Keberanian Any untuk memperlakukan Freud sebagai bagian yang terpisah dari “ensiklopedi” psikologi umum, saya harap, akan memungkinkannya suatu saat untuk membuka ruang pencarian yang lebih luas tentang spesifisitas Freud dan psikoanalisis di antara berbagai diskursus ilmu kemanusiaan lainnya.

Dalam meretas jalan itu, agaknya Any dapat mulai memikirkan di ranah mana ia akan mengembangkan ruang pencariannya. Psikoanalisis setidaknya memiliki tiga aspek mendasar: praktik, teori, dan metateori. Sebagai praktik, psikoanalisis sering dihubungkan dengan psikoterapi, dan hal ini mensyaratkan penguasaan teknik-teknik psikoanalitis. Sebagai teori, psikoanalisis akan memberi kerangka kerja bagi praktik dan perumusan bagi teknik-teknik itu. Sedangkan sebagai metateori, psikoanalisis akan memberi pendasaran bagi teori, sekaligus membuka diskusi yang lebih spekulatif mengenai ketaksadaran dalam pembentukan subjektivitas.

Buku ini baru berhenti pada satu fragmen dari psikoanalisis sebagai teori. Sementara, pertanyaan besar mengenai manusia merupakan pertanyaan pada tingkat metateori, yang dirumuskan Freud sebagai “metapsikologi” (Metapsychologie), yaitu konsepsi tentang psikoanalisis sebagai suatu ontologi ketaksadaran. Pada tingkat metapsikologi ini, akan terlihat sejauh mana psikoanalisis Freudian menghadirkan visi baru tentang “manusia”, dibandingkan dengan konsepsi-konsepsi filosofis-metafisis sebelum atau sesudahnya. Bila Any dapat melakukan intervensi teoretis pada level metapsikologis ini, barulah Any dapat membuktikan bahwa psikoanalisis Freud merupakan suatu keterputusan radikal dari berbagai filsafat dan Weltanschauung tentang manusia.

Seperti dikatakan Jean Laplanche, seorang Freudian Prancis, Freud telah membawa “revolusi Kopernikan” dengan pendekatan analitiknya atas ketaksadaran. Namun, revolusi ini, kata Laplanche, belum selesai, karena ketaksadaran bukan “pusat” baru yang hendak dikukuhkan oleh psikoanalisis sebagai prinsip transendental dari kebenaran ilmiahnya, melainkan suatu titik dari serangkaian titik-titik investigasi berikutnya tentang ketaksadaran secara khusus dan struktur subjektivitas secara umum.

Pertanyaan “siapa manusia itu” tentu saja tak akan terjawab sekarang, bahkan setelah kita membaca buku ini dan mempelajari seluruh karya Freud. Psikoanalisis, ujar Patrice Fabrizi, “bukanlah ajaran kebijaksanaan” (la psychanalyse n’est pas une école de sagesse). Psikoanalisis tidak dapat memberikan resep praktis tentang bagaimana menjadi manusia ideal. Ia adalah teknik atau problematisasi tentang “de-konstitusi diri”: suatu pembedahan diri “kita”, untuk memperlihatkan kontradiksi-kontradiksi pembentukan setiap subjektivitas yang membuat kita sampai detik ini masih mampu untuk berkata “aku”.***



One Response to “Dekonstitusi Diri”

  1. Very good blog! Do you have any recommendations for
    aspiring writers? I’m planning to start my own blog soon but I’m a little lost
    on everything. Would you suggest starting with a free platform like WordPress or go for a paid option?

    There are so many options out there that I’m totally
    confused .. Any ideas? Bless you!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: