10 Desember 2009

10Des09

“Para bhikkhu, ketika si makhluk duniawi yang tak terbimbing mengalami rasa sakit, ia bersedih, berduka, dan meratap; ia menangis sambil memukul-mukul dadanya dan menjadi gundah. Ia merasakan dua perasaan—perasaan jasmani dan perasaan batin. Andaikan ada orang yang memanah seseorang dengan anak panah, lalu ia segera memanahnya lagi dengan anak panah kedua, sehingga orang itu merasakan perasaan yang ditimbulkan kedua anak panah itu. Demikian juga, tatkala si makhluk duniawi yang tak terbimbing mengalami perasaan sakit, ia merasakan dua perasaan—perasaan jasmani dan perasaan batin.”

“Tatkala mengalami perasaan sakit itu juga, ia memendam kebencian terhadap perasaan itu. Ketika ia memendam kebencian terhadap perasaan sakit, kecenderungan mendasar dari kebencian terhadap perasaan sakit merupakan pencetusnya. Tatkala merasakan perasaan sakit, ia mencari kepuasan dalam kesenangan indrawi. Apa alasannya? Karena si makhluk duniawi yang tak terbimbing itu tak mengetahui jalan keluar apa pun dari perasaan sakit selain kesenangan indrawi, kecenderungan mendasar dari nafsu akan perasaan senang merupakan pencetusnya. Ia tak memahami sebagaimana adanya dari sumber serta lenyapnya, pemuasan, bahaya, serta jalan keluar dalam hal perasaan-perasaan ini. Ketika ia tak memahami hal-hal ini, kecenderungan mendasar terhadap kegelapan batin sehubungan dengan perasaan yang bukan-sakit-maupun-menyenangkan merupakan pencetusnya.”

“Jika ia merasakan perasaan senang, ia merasa terikat padanya. Jika ia merasakan perasaan sakit, ia merasa terikat padanya. Jika ia merasakan perasaan yang bukan-sakit-maupun-menyenangkan, ia merasa terikat padanya. Inilah, para bhikkhu, yang disebut makhluk duniawi yang tak terbimbing yang melekat pada kelahiran, penuaan, dan kematian; yang melekat pada kesedihan, ratapan, sakit, kemurungan serta keputusasaan; yang melekat pada penderitaan, begitulah yang Kukatakan.”

“Para bhikkhu, bila siswa suci yang terbimbing mengalami perasaan sakit, ia tak bersedih, berduka ataupun meratap; ia tak menangis sambil memukul-mukul dadanya dan merasa gundah. Ia merasakan satu perasaan–perasaan jasmani, bukan perasaan batin. Seandainya ada orang yang memanah seseorang dengan anak panah, namun ia tidak segera memanahnya kembali dengan anak panah kedua, sehingga orang itu hanya merasakan perasaan yang ditimbulkan satu anak panah saja. Demikian juga, tatkala siswa suci yang terbimbing mengalami perasaan sakit, ia merasakan satu perasaan—perasaan jasmani, bukan perasaan batin.”

“Selagi mengalami perasaan sakit itu juga, ia tak memendam kebencian terhadap perasaan itu. Karena ia tak memendam kebencian terhadap perasaan itu, kecenderungan mendasar dari kebencian terhadap perasaan sakit tidak menjadi pencetusnya. Tatkala merasakan perasaan sakit, ia tak mencari kepuasan dalam kesenangan indrawi. Apa alasannya? Karena siswa suci yang terbimbing itu mengetahui jalan keluar dari perasaan sakit selain kesenangan indrawi. Karena ia tak mencari kepuasan dalam kesenangan indrawi, kecenderungan mendasar dari nafsu akan perasaan senang tidaklah menjadi pencetusnya. Ia memahami sebagaimana adanya sumber serta lenyapnya, pemuasan, bahaya, serta jalan keluar dalam hal perasaan-perasaan ini. Karena ia memahami hal-hal ini, kecenderungan mendasar terhadap kegelapan batin sehubungan dengan perasaan yang bukan-sakit-maupun-menyenangkan tidaklah menjadi pencetusnya.”

“Jika ia merasakan senang, ia tak merasa terikat padanya. Jika ia merasakan perasaan sakit, ia tak merasa terikat padanya. Jika ia merasakan perasaan yang bukan-sakit-maupun-menyenangkan, ia tak merasa terikat padanya. Inilah, para bhikkhu, yang disebut siswa suci yang tak melekat terhadap kelahiran, penuaan, dan kematian; yang tak melekat pada kesedihan, ratapan, sakit, kemurungan, serta keputusasaan; yang tak melekat pada penderitaan, begitulah yang Kukatakan.”

“Inilah, para bhikkhu, yang merupakan pautan, ketidaksamaan, perbedaan antara siswa suci yang terbimbing dengan makhluk duniawi yang tak terbimbing.”

(Samyutta Nikaya, 36:6; IV 207-10)

— Petikan dari Tipitaka Tematik: Sabda Buddha dalam Kitab Suci Pali, dihimpun oleh Bhikkhu Bodhi, diterjemahkan oleh Hendra Widjaja (Ehipassiko, 2009)



No Responses Yet to “10 Desember 2009”

  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: