Magical Libraries

25Nov07

Perpustakaan-perpustakaan besar di dunia sungguh indah dinikmati. Baik dari segi arsitektural maupun koleksi buku yang disuguhkan di dalamnya, benar-benar memanjakan para pecinta buku yang berkunjung ke sana.

Tak ada kesan kumuh, pengap, atau berdebu ketika masuk ke dalamnya. Selain didukung oleh pencahayaan yang baik, ruang ventilasi yang lebar, tata letak yang kreatif juga membuat para pembaca tidak jenuh dan dapat bergerak leluasa.

Lihat saja misalnya Toronto Public Library, yang terletak di jantung kota Toronto, Amerika. Gedung ini, yang dirancang secara apik oleh dua arsitek Jepang Moriyama dan Teshima, dibangun dari beberapa lantai yang masing-masing dihubungkan oleh eskalator. Di negeri kita, eskalator hanya ada di pusat-pusat perbelanjaan, tetapi di Toronto, fasilitas ini justru digunakan untuk perpustakaan. Dengan fasilitas tersebut, pengunjung perpustakaan dapat maksimal menelusuri petak demi petak dalam ruangan.

Selain Toronto, arsitektur yang sama juga bisa kita lihat pada Perpustakaan Free University di Berlin, yang dirancang dengan kubah langit yang inovatif dan bercitarasa tinggi. Perpustakaan Alexandria, yang merupakan salah satu perpustakaan tertua di Mesir, juga memiliki keunikan yang mirip, dengan sentuhan nuansa Islami pada dekorasi tiangnya. Kombinasi aneh dan eklektik antara arsitektur modern dan tradisional terlihat dari interior perpustakaan ini.

Perpustakaan yang baik pada dasarnya juga ramah secara ekologis dan menyehatkan. Dalam hal ini Perpustakaan Seattle layak diteladani. Perpustakaan ini dilengkapi juga dengan taman-taman kecil di tengahnya. Kesan bahwa perpustakaan selalu pengap, berdebu, dan bikin flu pembaca—sama sekali hilang di sini.

Tidak semua perpustakaan di Eropa dan Amerika pada umumnya, memang, yang menggunakan arsitektur pascamodern. Bentuk-bentuk barok dan Gothik masih cukup dominan. Perpustakaan-perpustakaan tersebut umumnya merupakan warisan era romantik ratusan abad lampau, dan masih dirawat dan dipertahankan sampai sekarang. Perpustakaan Raja (Royal Library) di Jerman mempertahankan nuansa kerajaan dengan nuansa pencahayaan yang elegan dan elitis. Demikian juga, Perpustakaan Trinity College di Cambridge, Inggris, masih mempertahankan nuansa klasik, dengan tata letak yang sangat ketat dan geometris. Perpustakaan Chicago, kita lihat, juga masih terobsesi pada arsitektur klasik, yang seolah membawa kita pada kemegahan raja-raja di masa lalu.

Tidak ada salahnya mempertahankan semua citra itu. Melihat arsitektur yang megah, indah, dan tegak-menjulang berdekatan dengan langit, alih-alih membuat para pengunjungnya takjub dan setengah mati merasa khidmat berada di dalamnya. Perasaan itu yang suatu saat menghinggapi Jorge Luis Borges, pustakawan legendaris Argentina, hingga ia berkata: “Aku membayangkan surga serupa perpustakaan agung”.

Di Eropa sana, perpustakaan memang menjadi surga bagi para pembacanya. Di negeri kita sayangnya hal itu masih menjadi tanda tanya.

amsterdam-library-holland.jpg alexandria-library-egypt.jpg british-library-uk.jpg

chicago-public-library-usa.jpg cardiff-library-uk.jpg inside-new-york-public-library-usa.jpg

new-york-public-library-usa.jpg glasgow-library-scotland.jpg victoria-library-australia.jpg

seattle-library-usa.jpg toronto-public-library-usa.jpg trinity-college-library-cambridge-uk.jpg

monastery-library-rome.jpg coimbra-university-library-portugal.jpg university-of-granada-library.jpg

cottbus-library-germany.jpg inside-berlin-university-library.jpg berlin-library-germany.jpg

congress-library-usa.jpg royal-library-germany.jpg



16 Responses to “Magical Libraries”

  1. 1 aal

    aku seolah kehabisan amunisi untuk menulis. pinjami aku semangatmu. nanti aku bayar bila sudah kembali modal…

  2. 2 zackyku

    bibliofil, jakarta saja memang tidak ada perpustakaan umum yang layak. ironis.

  3. Menarik ngobrol tentang perpus,di Jakarta saja perpustakaannya masih sangat berdebu dan penuh dengan sarang laba-laba, selama pengembaraan saya di Jakarta, cuma satu yang kozy, perpus diknas (eks british council), tapi sekarang semenjak di bawah manajemen diknas buku2 nya nggak banyak ter update, dan pelayanannya makin “ala pemerintah” he he he.

  4. Setuju sama Wazeen, perpustakaan diknas sebenarnya mampu menjawab tantangan, tapi setelah diambil alih kembali persoalan manajemen koleksi yang muncul..Yang lebih menyedihkan lagi setiap pilkada/pemilu, tidak ada satupun kandidat berjanji untuk mendesign Perpustakaan yang layak……Salam kenal dari Mahasiswa Ilmu Perpustakaan UIN Jakarta….

  5. 5 Najib

    Saya rasa bukan hanya perpustakan saja yang kurang diperhatikan. Kita juga mesti memertanyakan nasib para penggiat buku di Negara ini. Mulai dari ilmuwan, penerbit, editor, penerjemah, dan penulis potensial masih berkelindan dalam situasi yang cukup memprihatinkan. Lantas, mesti kepada siapa, orang-orang baik seperti mereka, mesti mengadu? Dan apakah masih pantas kita mengadu lagi di Negeri Tak Bertuan ini?

  6. Dan masih sedikit yang merasakan pengapnya udara di ruang perpustakaan

  7. Ketenangan dan kerapian (perpustakaan) mungkin bisa mendorong banyak hal, tapi kesumpekan dan kesemrawutannya (semoga) juga bisa memberi inspirasi gila. Para penulis besar ternyata banyak melahirkan karya di ruang yang pengap, kumuh, dan buku-buku yang semrawut. Jadi, tidak usah terlalu melankolis! Nikmati aja apa yang ada!!!

  8. bung, saya link dari blog saya ya artikel menarik ini….

  9. Menyebut Perpustakaan Iskandariyah, saya teringat dua tahun yang lalu. Ketika waktu menakdirkan saya menikmati suasana perpustakaan yang megah, berwibawa, dan nyaman. Sayangnya, kenyamanan itu tidak bisa dinikmati oleh pengunjung yang benar-benar bermaksud untuk menikmati buku. Pengunjung yang hanya hendak bertamasya malah membuat gaduh dan bising. Belum lagi ‘tradisi’ pengunjung Perpustakaan yang menjadikan ruang baca sebagai ‘ruang kicau dan gosip’. Kenyataan itu benar-benar meruntuhkan potret perpustakaan Iskandariyah yang sungguh bersejarah

  10. 10 rimba

    saya jadi teringat akan perpustakaan di cordoba, betapa sangat eksotis dan menakjubkan. indonesia…..!masih dalam tanda tanya. salam kenal bung fayadl

  11. 11 fjr

    memang ironis….
    saya sebagai mahasiswa TA yang mengambil topik perancangan perpusnas dan arsipnas merasa tertantang untuk menyelessaikan paradigma2 ini.. walau sudah banyak senior2 diatas saya yang mengajukan proyek pembangunan perpustakaan nasional yang modern dan baik….
    susah memang sih….
    kalau ada yg punya data2 relevan untuk proyek saya ini boleh dong dishare…. yaaa mungkin data2 luasan ruang, keadaan2, foto2, berita2 terbaru mengenai perpustakaan nasional dan arsipnas.. atau perpustakaan luar indo…
    Thx

  12. 12 Supriadi

    tergantung pemimpinya kali ya…
    klo pemimpinnya orang Militer yang pasti dibangun barak-barak
    klo pemimpinya orang Bisnis yang pasti dibangun Pabrik, Mall dan Apartemen
    klo pemimpinnya orang Aneh yang pasti dibangun Taman Curhat dan Unek-unek
    salam…

  13. 13 ricki

    Indonesia’ayo’donk’maju..bhkn’perpustakaannya’pun’harus’maju.,!q’cinta,perpustakaan,jadikan’perpus’suatu’kebutuhan

  14. 14 ade yannetri

    wow fantastic!

  15. 15 ade yannetri

    andai perpustakaan di Indonesia kyk gini cantiknya… pasti aku seneng banget!!!!!!!


  1. 1 SD Integral Luqman Al-Hakim – Jantungnya sekolah ya perpustakaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: