Arsip untuk ‘foto’ Kategori
Sebuah “Tjap Djempoel” untuk Kapitalisme
Fareed Zakaria, kolumnis, editor, sekaligus pemuncak Newsweek, mengejutkan dunia dengan tulisan terbarunya, Manifesto Kapitalis. Mengolok-olok bebuka Karl Marx yang terkenal dari The Communist Manifesto (1848), ia menulis: “Sebuah hantu sedang gentayangan menyelimuti dunia: kembalinya kapitalisme.”
Mengingatkan kembali pada “akhir sejarah”-nya Fukuyama, Zakaria, yang pernah menjadi murid kesayangan Samuel Huntington selama di Harvard, mengatakan bahwa krisis yang terjadi di berbagai belahan dunia saat ini bukan “krisis kapitalisme”, tetapi “krisis finansial, demokrasi, globalisasi, dan terutama etika.” Karena itu, ke depan, “kita akan lapar pada lebih banyak kapitalisme, bukan sebaliknya.”
Kapitalisme akan tetap jaya—dan menjadi satu-satunya sistem yang mungkin saat ini—karena ia “mesin ekonomi yang paling produktif,” dan berkat kapitalisme, “selama lebih seperempat abad terakhir, lebih 400 juta orang di seluruh Asia terangkat dari garis kemiskinan.” “Sistem ini dinamis,” dan karena dinamisnya, ia “seperti mobil balap” yang berpacu di landasan cepat. Yang terjadi saat ini hanyalah “tabrakan” pada mobil itu, karena “tidak ada seorang pun yang mengemudikan mobil secepat itu dan tidak ada yang tahu cara mengemudikannya.” Namun, meski mobil itu tabrakan, “kita tetap mengemudikan mobil itu.”
Manifesto ini memang “tjap djempoel” untuk kapitalisme, atau “tjap darah” bahkan. Seperti tjap-tjap dukungan untuk calon-calon presiden yang terhormat di negeri kita hari-hari ini. Meski, jujur, kapitalisme telah membuat dunia saat ini makin gerah, sebab ratusan hektar hutan di Sumatera, Kalimantan, dan Papua digadaikan oleh perusahaan-perusahaan multinasional untuk ditebang dan disulap jadi pipa uang. Meski, jujur, kapitalisme telah membuat seorang teman saya dari Madura—dan mungkin banyak lagi orang Indonesia—tahun ini tak jadi kuliah karena pendidikan yang semakin mahal. Meski, jujur, masih sering dijumpai kesenjangan ekonomi antara superkaya dan supermiskin di negeri ini. Meski, jujur, kaum buruh tahun ini banyak di-PHK dan belum terjamin kesejahteraannya. Meski, jujur, kapitalisme membuat banyak pejabat korupsi. Meski … …
Kapitalisme, penuh kontradiksi, tapi tak henti-hentinya ia dipuja dan dipuji. Di dunia yang masih timpang dan membutuhkan lebih banyak keadilan dan kesetaraan, di samping kebebasan, masih layakkah kita percaya pada kapitalisme?
~ Muhammad Al-Fayyadl

Tinggalkan sebuah Komentar