Arsip untuk ‘esai’ Kategori

Allah pun “Moody”

Allah ternyata punya mood juga. Hmm… Itu kesimpulanku setelah membaca kitab al-Futuhat al-Makkiyyah karangan Ibn ‘Arabi.

Tentu pembaca mungkin akan bertanya-tanya, kenapa aku bisa menyimpulkan demikian? Apa itu artinya, Allah punya perasaan seperti kita? Lalu perasaan itu berubah-ubah seperti mood kita yang sering berubah-ubah itu? Lalu kalau begitu, bukankah itu berarti menyerupakan Allah dengan manusia—dan itu jelas syirik, na’udzu billah min dzalik?

Sebelum aku dibilang kualat atau “yang macem-macem” oleh pembaca, terlebih dulu biarkan aku sedikit tabayun.

Allah punya mood, memang sekadar pikiran isengku. (Tak salah, bukan, berpikir iseng tentang Tuhan?) Tapi, kalau kita membaca salah satu ayat dalam Al-Qur’an surat ar-Rahman, ayat 29, “Kulla yawmin huwa fi sya’n“, pembaca akan mengerti kenapa memang begitu “faktanya”.

Baiklah, kita terjemahkan dulu ayat itu. Karena di Indonesia satu-satunya terjemahan Al-Qur’an yang “diakui” adalah terjemahan Departemen Agama, kita akan merujuk terjemahan tersebut. Di sana, ayat itu diterjemahkan “Setiap waktu Dia (Allah) dalam kesibukan“. Kesibukan? Maksudnya? Tim penerjemah Depag yang konon adalah pakar-pakar tafsir menyelipkan catatan kaki di bawah: “Maksudnya: Allah senantiasa dalam keadaan menciptakan, menghidupkan, mematikan, memelihara, memberi rezeki dll.

Jika mengikuti tafsiran terjemahan Depag, pertama-tama kita akan membayangkan bahwa Allah adalah Dzat yang—boleh dibilang—”maha sibuk”. Allah adalah Tuhan yang aktif terhadap hamba-hambanya. Ia mengurus segalanya dari yang besar sampai yang kecil, dari menciptakan yang belum ada, mengurus semua yang ada ini, sampai kelak ketika tiada pun Ia tetap mengurusnya. Betapa Allah benar-benar Tuhan yang maha care terhadap makhluk-Nya.

Gambaran tentang Allah yang demikian ini tentu saja jauh lebih menarik daripada gambaran kaum deis, yang membayangkan Allah seperti tukang arloji. Pembaca mungkin pernah mendengar perumpamaan ini. Jadi, ibarat tukang arloji, Allah pertama-tama membuat arloji. Kemudian arloji itu bergerak sendirinya, dan si tukang arloji tak ikut campur dengan semua proses di dalamnya. Pendek kata, Allah baru “turun tangan” lagi kalau arlojinya sudah rusak. Seperti arloji itu, alam semesta dan seisinya bergerak dengan hukum alam yang tak butuh campur tangan Allah.

Jelas, jika mengikuti tafsiran Depag tadi, gambaran ala deistis tadi—Allah sebagai Tuhan yang nganggur selama alam semesta ada—tidak dapat diterima. (Lagi pula jika Allah nganggur selama semesta ada, Allah ngapain aja selama itu?) Persoalannya kemudian, jika Allah Maha Sibuk, bukankah itu berarti Allah punya mood yang membuat-Nya selalu “bergairah” dalam melakukan setiap apa yang dikehendaki-Nya?

Soal-menyoal “mood Allah” ini begitu menarik dan menjadi teka-teki bagi Ibn ‘Arabi sampai-sampai sufi besar ini mengutip—menurut catatan indeks di jilid terakhir Futuhat—kira-kira 60 kali ayat 29 ar-Rahman itu.

Bagi Ibn ‘Arabi, soalnya adalah pada kata sya’n dalam ayat di atas. Apakah sya’n itu berarti “kesibukan” seperti dalam versi tim penerjemah Depag? Tafsiran Ibn ‘Arabi terhadap kata sya’n di atas lebih halus dan tampak lebih kaya nuansa daripada tafsiran penerjemah Depag. Dalam bab 17 Futuhat, Ibn ‘Arabi menafsirkan sya’n di atas dengan istilah “hal” atau “kondisi”. Ini berarti secara umum ayat tersebut bisa diterjemahkan: “Setiap waktu Dia (Allah) dalam kondisi“.

Kondisi atau hal berarti suatu keadaan yang terjadi pada seseorang/sesuatu pada satu waktu tertentu. Kalau ia seorang manusia, hal-nya bisa bermacam-macam seperti sedih, gembira, senang, bersemangat, putus asa, lapar, haus, dan lain seterusnya. Kalau ia sebuah benda, hal-nya juga bisa bermacam-macam seperti segar (buah yang segar, misalnya), kusam (baju yang kusam, contohnya), kering (daun yang kering), basah (tanah yang basah), dan lain seterusnya. Itu adalah hal yang terjadi pada manusia dan benda.

Soalnya, bagaimana kalau Allah? Tentu Allah bukan seseorang atau sesuatu, dan sepertinya tidak menarik kalau dikatakan bahwa Allah sedih, Allah gembira, Allah putus asa, dan lain seterusnya. Tidak sesederhana itu sepertinya. Allah adalah Allah. Tetapi bagaimana kalau Allah juga berada dalam hal tertentu? Apa maksud hal di situ?

Menurutku ya itu, bahwa hal dalam konteks Allah kurang lebih berarti mood atau “suasana hati” pada Allah itu sendiri. Tentu “suasana hati” itu jangan ditafsirkan bahwa Allah punya “hati” secara biologis, sebagaimana manusia. “Suasana hati” itu kurang lebih menunjuk pada “perasaan tak terlukiskan” dalam Dzat Allah itu sendiri.

Ibn ‘Arabi membagi ketuhanan pada dua level: pada level relasi Allah dengan diri-Nya, dan pada level relasi Allah dengan makhluk-Nya. Pada level pertama, Allah mutlak tidak dapat diketahui atau dilukiskan dengan kata-kata. Pada level kedua, terbuka kemungkinan untuk melukiskan-Nya.

Bahwa Allah punya mood, dapat dipahami dalam level kedua itu. Allah punya mood karena makhluknya, alam dan manusia, juga punya mood. Karena itu suatu saat Allah pernah berkata lewat hadis qudsi, “Aku seperti apa yang dipikirkan hamba-Ku tentang diri-Ku”.

Maka bisa dipahami, kenapa Allah bagi kalangan “garis keras” akan tampak sebagai “Allah yang pemarah”, yang berperang melawan “orang-orang kafir”, dan suka menghardik yang tak sependapat dengan mereka… bagi para pejuang “teologi pembebasan” akan tampak sebagai “Allah yang pro-rakyat miskin”… bagi orang kaya, akan tampak sebagai “Allah yang royal dan suka memberi”… bagi kaum sufi, akan tampak sebagai “Allah yang sedih dan mencintai”… dan bagi Nietzsche, akan tampak sebagai “Tuhan yang menari”.

Allah punya mood, dan meminjam pemikiran Ibn ‘Arabi, mood itu juga tergantung dengan mood hamba-hamba-Nya. Tapi, dalam dirinya sendiri, apa mungkin Allah punya mood namun tidak pernah kita ketahui?

Mungkin Ia “sedih” ketika kita gembira, mungkin Ia “gembira” ketika kita sedih. Ya, mungkin saja. Tapi apa pun yang terjadi, aku cuma berharap tulisan ini berkenan bagi-Nya dan membuat-Nya “gembira”. Karena ketika manusia berpikir, kata Milan Kundera, Tuhan pun tertawa.

Ya, biarkan aku sesekali bermain-main dengan-Mu, ya Allah…

~ Muhammad Al-Fayyadl

Halaman Berikutnya »