“Derrida: déjà vu”
Kuliah Filsafat
“Derrida: déjà vu“
(Pengantar dan Pembacaan Ulang)
Membaca Derrida adalah sebuah pengalaman déjà vu, pertemuan dengan seseorang yang sepertinya pernah kita kenal namun ternyata sama sekali tak kita kenal, pengalaman akan “orang baru” namun dengan memori lama. Dalam setiap déjà vu, terdapat sebuah ketegangan kecil antara kebaruan dan masa lalu, antara kejutan dan ingatan, antara perbedaan dan repetisi, antara masa kini dan masa lalu yang pernah hadir.
Derrida adalah sosok yang kita jumpai dalam momen déjà vu: kita tampak seperti telah mengenalnya dengan baik, tapi makin kita merasa telah mengenalnya, makin tampak bahwa kita belum terlalu mengenalnya. Maka, ketika pemikirannya kemudian dicerca, dianggap kuno, dan bahkan diklaim telah selesai oleh para penantang dan kritikusnya dalam perdebatan filsafat dewasa ini, kita perlu bertanya: benarkah Derrida sungguh-sungguh telah berakhir?
Sebuah pembacaan ulang akan menyelamatkan kita dari generalisasi yang membabi-buta dan membuka kembali reinterpretasi yang lebih serius atas oeuvre-nya. Pembacaan itu akan menunjukkan bahwa filsafat kontemporer tidak bisa kembali lagi ke era “pra-Derrida” tanpa memberikan jawaban yang memadai dan benar-benar adekuat terhadap problematik-problematik filsafat yang telah dibuka oleh dekonstruksi. Kembali ke era “pra-Derrida” dengan mengabaikan Derrida merupakan langkah gegabah yang tidak filosofis dan cenderung naif, sama seperti upaya untuk kembali ke “metafisika” tanpa terlebih dulu menjawab tantangan yang dimunculkan oleh “kritik metafisika”.
Seri kuliah filsafat ini merupakan sebuah pembacaan ulang atas Derrida dan dekonstruksi. Kuliah akan dimulai dari penelusuran secara sistematis problem-problem mendasar yang dihadapi oleh Derrida, dan bergerak pada metodologi, temuan teoretis dan implikasi serta problematik dekonstruksi. Kuliah ini dirancang untuk mengkaji pemikiran Derrida secara konseptual, dan diperuntukkan terutama bagi para pengkaji Derrida secara khusus, pembaca filsafat Barat, dan peminat filsafat pada umumnya.
Tempat dan Waktu:
GSS Salman ITB, Bandung, Jumat-Sabtu, 4-5 November 2011, pukul 12.30-14.30 WIB
Pemateri:
Muhammad Al-Fayyadl
Pertemuan I (sesi pertama hari ke 1): “Derrida: déjà vu”: Derrida dan Problem-problem Umum Filsafat
Pertemuan II (sesi kedua hari ke 1): “Perkakas Teoretis: Fenomenologi dan Strukturalisme”
Pertemuan III (sesi pertama hari ke 2): “Invensi dan Operasi: Grammatologi dan Fenomenologi Baru”
Pertemuan IV (sesi kedua hari ke 2): “Dekonstruksi dan Implikasi-implikasinya”
Pendaftaran: Anis (0857-441-73686) / Sekretariat Divisi Pengkajian dan Penerbitan (DPP) Salman ITB, Bandung.
Info lebih lanjut: http://www.facebook.com/event.php?eid=223941017667646
Filed under: hal-ihwal | 1 Comment
Saya mengutip tulisan di atas:
“Maka, ketika pemikirannya kemudian dicerca, dianggap kuno, dan bahkan diklaim telah selesai oleh para penantang dan kritikusnya dalam perdebatan filsafat dewasa ini, kita perlu bertanya: benarkah Derrida sungguh-sungguh telah berakhir?”
Para penentang & kritikus ini, seperti juga analisis Derrida soal the dead of communism atau Marx, justru telah membangunkan spectre dalam ‘bentuk baru’.
Saya senang ada diskusi ini, selamat berdiskusi . . .