10 Desember 2007
Hari ini aku membaca Injil sambil membaca Tolstoi, atau membaca Tolstoi sambil membaca Injil. Dan aku menemukan selarik ucapan Yesus kepada seorang muridnya, Petrus, yang dikutip Tolstoi dan kukutipkan ulang di sini:
“Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: ‘Abba, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa kepadaku? Sampai tujuh kali?’. Yesus berkata kepadanya: ‘Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali’” (Matius 18: 21-22)
Aku tersentuh dengan ucapan itu. Setiap agama menganjurkan manusia untuk saling memaafkan. Dan itu tercermin salah satunya dari ajaran Yesus yang sangat radikal ini, di mana ia memerintahkan seseorang untuk mengampuni saudaranya yang berbuat salah dengan maaf yang tak ternilai sangatnya, yang kira-kira bila diumpamakan seperti “tujuh puluh kali tujuh kali”.
Nabi Muhammad juga mengajarkan itu dengan tindakannya. Aku teringat dalam sebuah biografi diceritakan bahwa ia pernah dilempari kotoran oleh seorang warga Mekkah yang belum memeluk Islam dan Nabi terluka karena perbuatan itu. Namun Nabi tidak membalasnya. Ia maafkan tindakan orang itu hingga ketika akhirnya orang itu meninggal, Nabi bahkan menyempatkan diri untuk menyalatinya.
Sebentar lagi Idul Adha, dan kita akan kembali saling meminta maaf. Sebentar lagi umat Kristiani merayakan Natal, dan mereka akan kembali bersukacita. Maaf membawa rasa sukacita, dan rasa sukacitalah yang membuat seseorang mampu memaafkan. Ada benang merah antara dua “kebetulan” yang indah ini.
4 comments so far
Leave a reply
indahnya kebersamaan.
Simon Petrus itu pemegang kunci surga. Dalam Matius 16: 15-19 Yesus berkata kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga. Dan aku pun berkata kepadamu: engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jema’at-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan surga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga”.
Konon, Muhammad juga pemegang kunci surga. Banyak di antara para sahabat-sahabatnya mendapatkan “stempel” plus “rekomendasi” masuk ke surga-Nya. Kepada siapa kita mengharap? Petrus, Muhammad, bukakan aku pintu surga. Jangan sampai ada yang tahu. Termasuk Tuhan sekalipun.
Bung, selamat Idul Adha dan Hari Natal ya…
maaf adalah kata terindah yang pernah diungkapkan manusia. jika benar begitu, maka dunia tidak lagi butuh apa-apa, kecuali maaf. dan peradaban manusia cukup dibangun di atas pondasi maaf saja.
bukan perang dan penaklukan !
@ aal
Wah baru denger nih kalo Muhammad pemegang kunci surga
@ M Lukman Hakim
Setuju..
Kita harus menyadari bahwa kita berbeda tapi kita juga harus menyadari bahwa kita punya kepentingan yang sama, yaitu hidup dengan aman, damai, tentram, adil, sejahtera di Indonesia negeri tercinta ini..